Ekonomi

Analis: Tarif Impor AS Belum Jelas Pengaruhi Rupiah

mediasumutku.com | JAKARTA – Terkait belum adanya konfirmasi dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump mengenai penambahan tarif impor kepada China, membuat pelaku pasar condong memburu dolar AS dari pada rupiah.

Berdasarkan data Bloomberg di pasar spot, rupiah melemah 0,13% ke Rp 14.038 per dolar AS. Sementara, di kurs tengah Bank Indonesia, rupiah juga melemah 0,15% ke Rp 14.025 per dolar AS.

Menurut Analis Monex Investindo Faisyal mengatakan rupiah melemah karena Trump belum beri kejelasan mengenai keputusannya terakhir penambahan tarif impor ke China di 15 Desember mendatang.

“Trump sebelumnya berencana untuk menunda kenaikan tarif ke China, tetapi penasihat Trump hingga kini tidak bisa mengkonfirmasi hal tersebut lebih lanjut,” kata Fasiyal.

Sementara, Ekonom Bank Mandiri Reny Eka Putri juga mengatakan ketidakpastian perang dagang AS dan China yang berlanjut membuat pelaku pasar condong buru dolar AS.

Selain itu, dollar AS tersokong menguat karena pelaku pasar juga cenderung bersikap wait and see menanti hasil Federal Open Market Committe (FOMC) malam ini mengenai arah kebijakan Fed Fund Rate (FFR).

“Pelaku pasar banyak mengantisipasi data eksternal yang mayoritas dari eksternal, seperti inflasi AS juga akan keluar malam ini, sementara dalam negeri sepi sentimen, rupiah jadi melemah,” kata Reny.

Ekspektasi pelaku pasar pada tingkat suku bunga AS adalah menurun dari 1,75% ke 1,5%. Jika ekspektasi pelaku pasar sesuai dengan keputusan The Fed, maka rupiah berpotensi menguat. Namun, jika The Fed mempertahankan suku bunganya maka rupiah berpotensi kembali melemah.

“Jika The Fed mempertahankan suku bunga maka rupiah hari ini Kamis (12/9) berpotensi kembali melemah di rentang Rp 14.000 per dolar AS hingga Rp 14.100 per dolar AS,” kata Faisyal.

Sementara, Reny memproyeksikan rupiah hari ini bergerak di rentang Rp 14.015 per dolar AS hingga Rp 14.060 per dolar AS.