Ekonomi Headline Nasional Sumut

BPGKT Membuahkan Hasil, Kaldera Toba Jadi Anggota Unesco

Naik satu ke peringkat mendapatkan predikat dossier (rekor) baru, sungguh lebih baik dibanding predikt reject (penolakan).

Medan, Mediasumutku.com – Dibalik pengakuan dunia melalui United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO), ada sosok wanita tangguh, ulet serta memiliki tekad penuh kejujuran yang telah berupaya dan bekerja keras tanpa lelah hingga akhirnya Unesco mengakui Geopark Kaldera Toba (GKT).

Dimata pegiat Pariwisata Sumatera Utara dan level Nasional, sosok wanita ini tentu tidak asing lagi. Dari niat dan ketulusannya untuk kepentingan warga Sumatera Utara, terutama bagi generasi penerus Toba, dia berupaya bahkan dengan swadaya berjuang dan akhirnya GKT mendapat pengakuan Unesco.

Dia adalah Dr Wan Hidayati melalui ketulusan hatinya, General Manager (GM) Badan Pengelola Geopark Kaldera Toba (BP GKT) itu bekerja keras bersama timnya supaya Toba mendapat pengakuan Dunia dan kini telah menjadi bagian dari Unesco Global Geopark (UGG), tentu inilah harapan masyarakat Sumut dan Indonesia.

“Saya mengalami beberapa proses yang panjang untuk mencapai tahap Toba Kaldera Geopark menjadi anggota Unesco (Unesco Global Geopark). Nah, ini adalah proses yang harus kita jalani dengan satu tekad, ulet, dan harus penuh dengan keberanian serta ketulusan,” ungkap GM Kaldera Toba Wan Hidayati saat berbincang santai bersama wartawan di Tong’s Café Jalan Kejaksaan Medan, Jumat (13/9/2019) petang.

Pelan tapi pasti, perjuangan pun berlanjut di tahun 2015, Unesco mendorong GKT naik satu ke peringkat mendapatkan predikat dossier (rekor) baru, sungguh lebih baik dibanding predikt reject (penolakan).

Dua tahun kemudian (2017) Wan Hidayati mendapat perintah dari Wakil Gubernur Sumatera Utara atas instruksi Menko Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan untuk membentuk Badan Pengelola Geopark Kaldera Toba (BP GKT).

“Tahun 2017 dibentuk Tim Percepatan yang diketuai ibu Nur Aziza Marpaung yang pada waktu itu wakil gubernur (Sumatera Utara), gubernur pada waktu itu Bapak Tengku Erry Nuradi memerintahkan agar dibentuk tim percepatan atas desakan dari Menko Kemaritiman waktu itu Bapak Luhut Binsar Panjaitan (hingga saat ini),” jelasnya.

GM BPGKT Dr Wan Hidayati (kiri) bersama Wakil GM BPGKT Gagarin Sembiring

“Nah, pada saat itu dimulai lah perjuangan kami di Badan Pengelola Geopark Kaldera Toba, yang terdiri dari saya sendiri (General Manager BP GKT), Wakil Ketua adalah Gagarin Sembiring disertai dengan Deddy Panjaitan, Unggul Sitanggang, dan banyak lagi termasuk pakar-pakar yang diketuai bapak RE Nainggolan, Prof Zulkifli Nasution dan Bapak Wilmar Simanjorang,” tambah Hidayati.

16 Geosite Terbentuk di 2017

Untuk memenuhi syarat dan standar yang berlaku di Unesco, selaku GM BP GKT Wan Hidayati terus berjuang dan melakukan berbagai perbaikan sesuai kriteria yang ditetapkan Unesco didasari dengan self assessment.

“Kami melakukan assessment terhadap diri kami sendiri dan kami mulai membuat dossier dan harus selesai di bulan November tahun 2017. Kami bekerja siang malam melihat mengumpulkan data, melihat bagaimana dossier yang baik, yang dapat diterima oleh Unesco,” ujarnya.

Sejumlah pakar turut dilibatkan antara lain pakar Geologist Vulcanologist dari Geological Museum Bandung hingga Ketua Tim Geopark Nasional Hanang Samudera yang berperan mendatangkan advisor Mr Guy Martini sebagai ahli geologi dalam bidang antropologi asal Prancis, serta melibatkan profesor emeritus di bidang Ilmu Bumi spesialis dalam Rekayasa Geologi, Geologi Konservasi, dan Keberlanjutan) Dr Ibrahim Komoo asal Malaysia.

“Mereka menggodok kami sehingga kami dapat terus berkembang untuk membuat dossier. Bulan November (2017) dossier selesai kita mengirimkan ke Unesco melalui KNIU (Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO) di Jakarta juga disertai dengan Kementerian Menko Maritim,” ungkapnya.

Sebagai koordinator, pihak Kemenko Maritim pun menyambut positif atas perjuangan BP GKT dan memberikan dukungan dengan mengirimkan dossier ke Unesco.

“Dossier itu bukanlah buku atau dokumen yang gampang, didalamnya terdapat janji-janji dari pada Badan Pengelola, terdapat juga informasi dari pada potensial Toba Kaldera Geopark, juga didalamnya terdapat International meaning (Kaldera Toba Geopark),” urai Hidayati.

Belum cukup dengan dossier dari pemerintah, jalan panjang kembali dihadapi BP GKT. Sebab, Unesco kembali mengeluarkan rekomendasi untuk perbaikan peta deliniasi (melakukan penarikan garis batas sementara Toba Geopark). Peta deliniasi pun akhirnya dikirim pada Februari 2018 ke Unesco.

“Setelah itu kami mendapatkan surat (dari Unesco) bahwa kami lulus di dalam persyaratan pertama, yaitu dossier diterima,”sebut Hidayati dengan senyum penuh bahagia.

“Akhirnya keluarlah surat (dari Unesco) bahwa tahap kedua akan dijalani yaitu kunjungan assessor di bulan Agustus (2018). Pada waktu itu Pejabat Gubernur (Sumut) Bapak Eko Subowo memerintahkan kepada kami untuk bersiap-siap, juga didukung BPODT (Badan Pengelola Otoritas Danau Toba) ikut bersama kami dan seluruh stake holder lainnya dan partnership yaitu PT Inalum ikut mendukung kami, Pertamina, Bank Indonesia juga mendukung kami, serta Pelindo,” ujar Hidayati.

Hidayati kembali menyebutkan, Kemudian tim BP GKT menjalani assessement dengan pengawasan ketat, tim diwajibkan menjawab berbagai pertanyaan dan harus menunjukan apa yang dijawab tim BP GKT.

“Sehingga terjadilah ujian yang sangat berat untuk kita. Di 16 geosite kami berkeliling hanya bisa sampai di 6 geosite karena keterbatasan waktu, kemudian mereka (tim assessor) mencatat semua apa yang terjadi (pada 6 geosite) dan akhirnya keluarlah rekomendasi,” imbuhnya.

Lahirlah sembilan rekomendasi dari Unesco, dan sembilan rekomendasi tersebut dikatakan harus selesai selambat-lambatnya dua tahun.

Badan Pengelola Geopark Kaldera Toba pun menyambut baik dan meminta masukan kepada Kemenko Maritim serta Pemprov Sumut , dimana kementerian pariwisata dan kementerian menko maritim serta Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO memberi tiga bulan kepada BP GKT untuk menyiapkan rekomendasi.

“Akhirnya kami dengan semua tim berjuang bersama untuk menyelesaikan semua rekomendasi tersebut. Yang pertama adalah lengkapi visibility, gapura, penunjuk arah, dan lain-lainnya. Terus yang kedua adalah master plan harus selesai. Ketiga adalah pendidikan berbasis sekolah dasar dilengkapi dengan pendidikan lingkungan hidup, serta mitigasi bencana,” urai GM BP GKT Wan Hidayati.

Termasuk menyiapkan informasi geopark dunia di information center, protection dan melengkapi situs-situs dengan memberikan pagar proteksi serta regulasi serta menyiapkan peta overlay (Sistem Informasi Geografis), kebudayaan dan peta deliniasi.

“Dan setelah waktu tiga bulan kami kirimkan, kami menunggu dengan penuh harap terus berkomunikasi namun di tahun lalu (2018) saya memberanikan diri pergi ke Yunani untuk belajar selama 40 hari, hari raya saya tidak berada di tanah air. Ini adalah bentuk keseriusan yang dapat dipandang Unesco dari Negara kita,” ujarnya.

Hidayati menjalaninya dengan suasana ketika bulan suci ramadhan, dirinya menikmati proses itu. Menjalani kursus dan berkomunikasi dengan seluruh council (dewan) setempat  serta pihak Unesco yang ada di Yunani.

“Itu adalah bentuk satu bentuk keseriusan yang kita tunjukan kepada mereka. Akhirnya kita melihat di tanggal 31 (Agustus 2019) adanya APGN (Asia Pasific Geoparks Network) Simposium di Lombok Rinjani terdapat 16 council yang ikut rapat tetapi ada dua yang keluar, akhirnya 14 council mengatakan setuju atas kelulusan Toba Kaldera Geopark menjadi UGG (Unesco Global Geopark),” cetusnya.

GM BP GKT merasa bersyukur atas perjuangan panjang yang dilakukan bersama timnya, yang tentu demi seluruh masyarakat di Danau Toba, Sumatera Utara dan Indonesia.

“Karena hal ini adalah sesuatu yang sangat luar biasa dimana Toba menjadi geopark ke lima di dalam anggota Unesco di Indonesia selain Sewu, Batur, Rinjani dan Ciletuh,” tandas Hidayati. (MS2/MS2)