Perkebunan & Pertanian

Ini Penjelasan Ilmiah Dosen Pertanian UNA Soal Ubi Raksasa di Batubara

mediasumutku.com | BATUBARA – Seorang petani di Batu Bara, Sumatera Utara kaget ketika memanen singkong atau ubi berukuran raksasa di kebunnya berukuran panjang hampir 2 meter dan berat 20,47 Kg.

Petani yang memanen dan menemukan pertama kali ubi raksasa tersebut bernama Jais di kebun rumahnya Desa Dahari Selebar, Lima Puluh Kabupaten Batu Bara. Semula Jais dan keluarga yang semula berniat untuk memakan ubi goreng hasil dari hasil panen di kebun diurungkan karena penemuan ubi tak biasa itu hingga akhirnya jadi tontonan tetangga sekitar rumahnya.

“Beratnya pas ditimbang 20,47 kilogram. Niat awal untuk memasaknya nggak jadi, kami simpan dulu karena jarang ada ubi begini,” katanya

Ubi raksasa itu kemudian viral di sosial media, setelah diunggah oleh akun Zuraida M Nor. “Teringin makan ubi kayu. Digali di depan rumah. Subhanallah terkejut melihat ubi sebesar ini,” tulis pemilik akun tersebut.

Dosen Fakultas Pertanian Universitas (UNA) Asahan, Heru Gunawan yang dihubungi wartawan, Jumat (12/2/2021) memperkirakan jenis ubi raksasa yang ditemukan petani di BatuBara berjenis singkong karet atau mukibat.

“Kita ketahui penanaman singkong mukibat sendiri adalah menyambung dua ruas pohon singkong, bagian atas singkong karet sedangkan bagian bawah adalah singkong biasa. Menanam singkong mukibat sendiri mendapatkan dua keuntungan sekaligus, selain daunya lebat umbi yang dihasilkan oleh singkong mukibat juga besar,” jelas Heru.

Ia menjelaskan, jika ditanam biasa,  tanpa disambung, singkong karet hanya menghasilkan daun saja sedangkan umbinya hanya berupa akar.

“Jika penanaman singkong sambungan tersebut dilakukan secara baik dan benar satu batang singkong mukibat bisa menghasilkan umbi dengan berat 50 Kilogram bahkan bisa lebih,” ujarnya.

Disamping itu kata Heru, salah satu faktor umbi yang dihasilkan berukuran besar termasuk faktor kandungan nutrisi di dalam tanah dan usia ubi ditanam yang dapat dipanen antara 8 hingga  12 bulan.

“Bisa jadi faktor kandungan nutrisi tanahnya, ditambah unsur hara yang sangat baik. Jadi buah umbi yang dihasilkan berkembang baik di dalam tanah,” paparnya. (MS10)