Ekonomi

Jelang Akhir Tahun, Pasar Saham Global Tergelincir

mediasumutku.com | NEW YORK – Menjelang penutupan akhir tahun 2019, Pasar saham global jatuh pada Senin (30/12) karena kehilangan tenaga setelah reli akhir tahun yang mendongkrak harga saham ke rekor tertingginya.

Mengutip Reuters, volume perdagangan di akhir tahun yang tipis memperburuk pelemahan dolar, yang telah jatuh dalam tiga sesi berturut-turut.

Imbal hasil obligasi 10 tahun Jerman mencapai level tertinggi dalam tujuh bulan dan imbal hasil obligasi AS naik, mendorong kurva imbal hasil obligasi bertenor 10 tahun naik ke level tertajam dalam 14 bulan di tengah ekspektasi The Fed tidak akan menurunkan suku bunganya.

Wall Street tergelincir seperti halnya pasar saham Eropa dan Jepang, tetapi saham blue chips di China semalam ditutup pada level tertinggi selama delapan bulan dan saham di Hong Kong ditutup dengan kenaikan tertinggi selama lima bulan setelah Bank Sentral China mengeluarkan kebijakan untuk menurunkan biaya dana.

Indeks saham MSCI di seluruh dunia MIWDOOOOOPUS turun 0,43%, sedangkan indeks STOXX 600 pan-Eropa turun 0,85%.

Saham-saham di Wall Street jatuh dengan penurunan harian terbesar dalam empat pekan setelah rekor.

Berita tentang kesepakatan perdagangan AS-China gagal mengangkat pasar seperti di sesi sebelumnya.

Penasihat perdagangan Gedung Putih Peter Navarro mengatakan pakta kesepakatan dagang antara AS-China kemungkinan akan diteken pekan depan, dan South China Morning Post mengatakan Wakil Perdana Menteri China Liu He akan berkunjung ke Washington akhir pekan ini untuk menandatangani kesepakatan.

“ini hanyalah kelelahan reli akhir tahun,” kata Kristina Hooper, kepala strategi pasar global Invesco New York seperti dikutip Reuters Selasa (31/12).

“Masuk akal kalau investor melepaskan pedal gas selama dua hari terakhir tahun ini.”

Indeks Dow Jones Industrial Average turun 183,2 poin atau 0,64% ke 28.462,14, S&P 500 turun 18,73 poin atau 0,58% ke 3.221,29 dan Nasdaq Composite turun 60,62 poin atau 0,67% ke 8.945,99.

Menurut Hooper, kebijakan moneter, termasuk tiga kali penurunan suku bunga oleh The Fed adalah faktor dominan yang mempengaruhi pasar pada tahun 2019, dan kemungkinan di tahun depan juga, karena bank sentral tetap akomodatif.

“Itu tentu membantu pasar,” imbuhnya, tetapi lebih untuk pasar negara berkembang ketimbang pasar di negara maju.

Saham di pasar negara berkembang kehilangan 0,02%, dengan bolsa Meksiko.XX melorot 1,79%, tetapi cenderung mengungguli pasar saham lainnya pada tahun 2020, menurut Hooper.

“Ini akan menjadi tahun pasar negara berkembang, khususnya negara berkembang di Asia, dan itu pasti termasuk pasar saham China,” katanya.

Saham China terpukul habis pada tahun ini karena dugaan China akan kehilangan sengketa perdagangan AS-China.

The Fed secara agresif telah meningkatkan jumlah dolar dalam sirkulasi, mendorong pertumbuhan pasokan uang beredar (M2) menjadi 7,6% dari tahun lalu dari 3,2% pada November 2018, menurut analis riset senior Odeon Capital Group, Dick Bove.