Ekonomi

Kemendag Promosikan Produk Kayu Berkelanjutan di Indonesia

mediasumutku.com|MEDAN- Kementerian Perdagangan berupaya memenuhi kebutuhan informasi industri kayu ringan dalam negeri terhadap perkembangan inovasi dengan menyelenggarakan Indonesian Lightwood Cooperation Forum (ILCF) ke-5.

Dengan berbekal informasi yang mencukupi dan kualitas kayu yang sangat baik, diharapkan para pelaku usaha kayu ringan Indonesia mampu memenuhi kebutuhan produk kayu berkelanjutan dalam rantai nilai global.

“Kementerian Perdagangan berkomitmen untuk terus memberikan perhatian terhadap industri kayu ringan. Melalui kayu ringan, Indonesia dapat mengubah citra sebagai penghasil produk kayu tropis menjadi sumber produk kayu yang inovatif dan berkelanjutan,” kata Dirjen PEN Kasan, Sabtu (14/11/2020).

Menurut Kasan, pemerintah juga terus berupaya agar Sistem Verifikasi dan Legalitas Kayu (SVLK) Indonesia dapat lebih diterima di pasar Eropa. Sehingga, produk kayu Indonesia memiliki keunggulan kompetitif dibanding produk negara lain. SVLK sendiri merupakan salah satu komitmen Indonesia dalam mendukung perdagangan yang berkelanjutan.

Perhatian dunia terhadap isu lingkungan katanya, juga mendorong dunia usaha untuk berubah dalam menjalankan bisnisnya.

“Perkembangan gagasan atas perdagangan berkelanjutan dipandang sebagai peran penting dalam mencapai agenda 2030 untuk pembangunan yang berkelanjutan (sustainable development),” ungkapnya.

Namun, lanjut Kasan, tekanan ekonomi dan perdagangan global yang diakibatkan pandemi dapat meningkatkan risiko praktik perdagangan yang tidak berkelanjutan.

“Sehingga, dalam upaya untuk pulih secara ekonomi dari pandemi, terdapat potensi negara-negara mengurangi fokus pada komitmen mereka terhadap produksi kayu yang legal dan berkelanjutan,” ujarnya.

Menurut Direktur Kerja Sama Pengembangan Ekspor Marolop Nainggolan, kayu ringan dapat menjadi solusi dalam mendukung produksi hasil kayu yang berkelanjutan di Indonesia.

“Sebagai negara dimana kayu seperti sengon dan jabon berlimpah, Indonesia merupakan salah satu lumbung kayu ringan terbesar di dunia. Kedua jenis kayu tersebut mulai banyak digunakan sebagai furnitur bahkan bahan konstruksi,” ungkap Marolop.

General Manager Asia Tenggara Haring Timber Technology Laurent
Corpataux, menyampaikan, sektor konstruksi menghasilkan cukup banyak emisi karbon, yaitu sebanyak hampir 40 persen. Untuk itu, diperlukan transformasi pada sektor pembangunan dan konstruksi.

“Konstruksi dari kayu telah menjadi tren sekaligus menjadi solusi penyerapan emisi karbon tersebut. Melihat hal ini, kayu ringan seperti jenis kayu sengon asal Indonesia memiliki peluang yang sangat baik untuk digunakan pada sektor konstruksi dari kayu,” jelas Laurent.(MS11)