Berita Sumut Headline Medan Sumut

Ketua PP Pemuda Tabagsel Ajak Masyarakat Dukung Pemimpin yang Peduli Nasib Petani

MEDAN-Sektor pertanian yang selama ini dianggap mampu meningkatkan taraf hidup masyarakat di berbagai daerah, khususnya di daerah Tapanuli Bagian Selatan (Tabagsel) ternyata masih jauh dari harapan.

Persoalan sulitnya mendapatkan pupuk, saluran irigasi yang kurang tertata dengan baik mengakibatkan banyak petani beralih profesi dan menjual lahannya karena dianggap tidak produktif. Dampaknya adalah, terjadi alih fungsi lahan dari pertanian menjadi perkebunan kelapa sawit atau peruntukan lainnya.

Menyikapi kondisi sektor pertanian yang semakin memprihatinkan ini, Pimpinan Pusat Pemuda Tabagsel menyerukan kepada masyarakat Tabagsel agar ke depan benar-benar selektif dalam memilih pemimpin yang benar-benar memiliki kepedulian dan kepekaan terhadap keluhan petani.

“Pemilu 2024 sudah semakin dekat, masyarakat Tabagsel harus menentukan sikap dalam melihat figur-figur yang nantinya muncul yang memiliki kepedulian terhadap nasib petani. Kesejahteraan petani perlu menjadi prioritas karena mayoritas mata pencaharian masyarakat Tabagsel adalah petani,” kata Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Pemuda Tabagsel, Marwan Ashari Harahap didampingi Sekretaris Umum Mhd. Sulyan Pulungan, M.Pd, dan pengurus Lainnya, Sabtu (2/4/2022) di Medan.

Menurut Marwan Ashari Harahap, kehidupan petani selama ini kurang mendapat perhatian, sehingga kehidupan petani semakin memprihatinkan, dan dianggap kurang menjanjikan, padahal setiap kali menjelang Pemilu, keberadaan mereka selalu dieksploitasi untuk kepentingan pribadi dan kelompok tertentu.

“Petani seringkali hanya mendapat janji-janji dan mendapat bantuan ala kadarnya berupa bibit atau benih padi,” katanya.

Kurangnya perhatian terhadap petani di Tabagsel, lanjut Marwan Harahap ditandai dengan kurangnya perhatian dalam perbaikan irigasi. Petani sering mengeluhkan saluran irigasi yang jebol dan akhirnya tidak berfungsi.

“Petani juga sulit mendapatkan benih yang berkualitas, harga pupuk yang melonjak tinggi akibat langkanya pupuk. Petani juga kurang mendapat edukasi terkait mekanisasi pertanian. Persoalan setelah panen, harga jual gabah di tingkat petani sangat rendah,” paparnya.

Kondisi petani di Tabagsel ini, membuat petani millenial (baca : anak petani) memiliki minat yang rendah untuk mengikuti jejak orangtuanya sebagai petani. Karena, dianggap kurang menjanjikan bagi masa depan generasi millenial.

“Edukasi dan pengenalan teknologi pertanian kepada generasi millenial juga harus dibarengi dengan dukungan dari semua pihak. Dukungan dari stake holder sangat menentukan masa depan pertanian di daerah Tabagsel,” tandasnya.

Masih maraknya penebangan hutan di kawasan Tabagsel, lanjut Marwan Harahap dikhawatirkan ke depan akan terjadi kekeringan hebat. Karena, alih fungsi hutan menjadi perkebunan atau dampak negatif dari perambahan hutan adalah hilangnya tumbuh-tumbuhan yang selama ini bisa menahan air mengakibatkan sumber mata air juga ikut hilang.

Marwan Ashari Harahap menyerukan kepada masyarakat Tabagsel agar ke depan, terutama dalam momentum Pemilu 2024 mendatang, benar-benar dalam memilih figur-figur calon pemimpin yang memiliki kepekaan dan kepedulian terhadap nasib petani, bukan hanya sekadar janji tapi ada bukti dengan program yang bisa mensejahterakan petani.