Ekonomi

Kondisi Cuaca Jadi Pemicu Fluktuasi Kenaikan Harga Pangan

mediasumutku.com| MEDAN- Kondisi cuaca di Sumatera Utara beberapa bulan ini ikut memicu fluktuasi kenaikan harga pangan. Salah satunya, harga cabai.

Sebelumnya, harga cabai memang mengalami kenaikan yang cukup signifikan hingga mencapai Rp50.000 ribu di tingkat pedagang pengecer. Namun, dalam dua hari terakhir ini harga cabai kembali turun dan bergerak dalam rentang angka yang ideal diikisaran Rp 25.000 hingga Rp 35.000 perkilogramnya.

Kinerja harga cabai tersebut mengalami pelemahan seiring dengan membaiknya kondisi cuaca belakangan ini. Cuaca disisi lain kerap menjadi salah satu pemicu fluktuasi kenaikan harga pangan.

“Dari pantauan di pasar, cabai merah selain dari Jawa, dari wilayah Palembang juga mulai masuk ke wilayah Sumut. Dan ditambah dengan cuaca yang lebih bersahabat belakangan ini, mengakibatkan penambahan jumlah stok yang membuat harga cabai mampu bergerak turun. Selain cabai merah, cabai rawit juga terpantau bergerak stabil dikisaran 25 hingga 30 ribu per Kg,” kata Ketua Pemantau Pangan Sumut, Gunawan Benjamin, Sabtu (24/10/2020).

Namun katanya, yang perlu diwaspadai adalah adanya tekanan pada harga bawang merah. Sejauh ini, bawang merah mengalami kenaikan meskipun masih dalam batas angka yang ideal. Paling mahal bawang merah dijual dikisaran Rp 35.000 perkilogram sejauh ini.

“Dan dari temuan di pasar, bawang merah kita banyak didominasi dari luar wilayah Sumut. Jadi memang kondisinya itu bergantung dengan wilayah lainnya untuk saat ini. Sejauh ini, bawang merah di Sumut banyak didatangkan dari wilayah Padang, maupun Jawa,” sebutnya.

Untuk harga ikan segar, sebut Gunawan, saat ini lebih banyak dipengaruhi oleh faktor cuaca. Dan kelangkaan ikan segar ini juga nantinya akan segera teratasi. Namun, yang menjadi persoalan selanjutnya adalah bagaimana Sumut harus mampu menjaga ketahanan pangan di wilayah ini.

“Salah satu yang paling mungkin bisa dilakukan adalah dengan mengorganisir tanaman pangan masyarakat. Sehingga, kita mengetahui stok pangan kedepan secara lebih akurat. Dan Sumut harus benar-benar bisa menyediakan ketersediaan data yang akurat khususnya dari pola tanaman pangan masyarakat yang ada di Sumut,” ucapnya.

Gunawan menilai, Sumut tidak memiliki instrumen yang mampu beradaptasi dalam berhadapan dengan cuaca. Baik dari sisi distribusi maupun mitigasi pola tanam yang berpotensi bermasalah di masa yang akan dating karena cuaca.

“Sudah semestinya pemerintah daerah punya fokus perhatian yang lebih besar untuk masalah pangan. Karena isu ini sangat sensitif di tengah resesi yang ditunjukan dengan daya beli masyarakat turun,” katanya.(MS11/foto:int)