Nasional

Kongres IMABSI Digelar di Asahan, Mengindonesiakan Bahasa Indonesia

Asahan – Ikatan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia se-Indonesia (IMABSI) menggelar kongres ke VII di Universitas Asahan (UNA) Sumatera Utara (Sumut) diikuti sekitar 105 perguruan tinggi dari nusantara secara online dan langsung digelar pada tanggal 14-17 Maret 2022.

“Universitas Asahan sangat berbahagia menyambut kegiatan kongres ini di gela di sini. Ini menambah semangat kami untuk ikut berkontribusi dalam terciptanya gagasan yang bermanfaat untuk bahasa Indonesia,” kata Prof Dr Tri Harsono, M.Si, rektor Universitas Asahan dalam sabutannya, di kampus setempat, Senin (14/3/2022).

Rektor mengatakan rusaknya penggunaan bahasa Indonesia saat ini diakibatkan oleh kita sendiri. Karenanya melalui IMABSII ini akan tercipta satu gagasan atau semangat dalam rangka mengindonesiakan bahasa Indonesia.

“Kita punya ribuan dialek dengan ragam bahasa di Indonesia dan untuk menyatukan itu bahasa Indonesia menjadi penyatunya,” pesan Tri.

Senada, Ketua Yayasan UNA Drs Mapilindo mengajak para mahasiswa untuk tidak latah menggunakan bahasa asing dalam kehidupan sehari – hari. Hal ini menurut dia menjadi cikal rusaknya penggunaan basa sastra Indonesia.

“Mari kita gunakan bagasa Indonesia yang benar, jangan latah menggunakan bahasa asing jika terminologinya sudah ada dalam bagasa Indonesia,” ajaknya.

Sekjen IMABSII, Lalas Kurniawan menjelaskan, IMABSII rutin menyelenggarakan seminar dan kongres nasional setiap tahunnya yang diikuti oleh seluruh mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia seluruh Indonesia.

Melalui kongres ini kata dia, diharapkan dapat berkembangnya wawasan dan potensi diri mahasiswa terutama dalam kesusastraan dan bahasa Indonesia.

Kepala Balai Bahasa Provinsi Sumatera Utara (BBSU) Dr Maryanto menjelaskan bahasa Indonesia tidak hanya dijadikan sebagai bahasa nasional namun sebagai bahasa Internasional yang mendapatkan pengakuan eksistensi dari bahasa Indonesia itu sendiri.

“Pengakuan itu tentu dimulai dari wilayah yang terdekat yaitu kawasan Asean yang peluang tantangannya itu menjadi menarik, karena dunia Internasional mencatat bahasa Indonesia sebagai bagian dari Melayu yang epicentrumnya berada di selat Malaka karenanya sastra Indonesia ini akan menjadi milik bersama,” kata dia. (MS10)