Teknologi

Media Sosial Sebagai Wadah Demokrasi Masyarakat

MEDAN- Media sosial menjadi salah satu hal yang sangat pesat berkembang dikalangan masyarakat, pada beberapa tahun terakhir banyak sekali hal yang sudah tergantikan oleh kecanggihan teknologi ini. Mulai dari pembayaran, pembelian beberapa kepentingan, sampai pencarian pekerjaan.

Hal ini membuat sosial media menjadi sangat memiliki dua sisi positif dan negtaif. Bahkan Steve Jobs, sebagai penemu Apple menyadari dampak ini dikalangan masyarakat, sehingga dia melarang untuk anak-anaknya bermain gadget seperti orang pada umumnya.

Menyadari hal ini, Anggota komisi I dari Partai Amanat Nasional, Farah Puteri Nahlia, dalam pembukaannya pada webinar yang bertema Media Sosial Sebagai Wadah Demokrasi Masyarakat ini mengajak banyak pihak untuk ikut andil dalam berpartisipasi mengontrol perkembangan social media ini dikalangan masyarakat agar perkembangan dan perjalanannya dapat teratur dan terarah.

Menurutnya, kerjasama dan focus pada diskusi soal perkembangan social media ini menjadi salah satu solusi terbaik untuk menjawab masalah yang kompleks ini demi membangun Indonesia dikemudian hari.

Dirjen APTIKA Kemkominfo, Samuel A pangerapan, B.Sc, dalam kata sambutannya menyampaikan, kehadiran teknologi di dalam masyarakat membuat kita menghadapi distrupsi teknologi.

“Untuk mengahadapi distrupsi itu sebagai masyarakat harus mempelajari hal yang palin penting pada era digital saat ini, yaitu paham akan literasi digital agar kita sebagai masyarakat bisa mengambil peranan penting dalam keadaan saat ini,” ujarnya.

Dikatakannya, pada tahun 2020, Kementerian Komunikasi Informasi bersama Kata Data melakukan survey status literasi digital nasional dengan mengacu pada kerangka milik UNESCO, dari kajian tersebut menunjukkan bahwa indeks literasi Indonesia menunjukkan 3,47 dari sekala 1 – 4.

Dalam hal tersebut menurutnya, bahwa Indonesia masih berada dibagian sedikit di atas sedang, belum dalam keadaan yang baik, paparnya di Jakarta, Selasa (6/10/2021).

Dalam webinar ini, Ratno Sulistyanto, Direktur Eksekutif Indopol selaku narasumber mengatakan, semua orang pada akhirnya akan terlalu fokus untuk bermain sosial media, persis seperti ilustrasi yang beliau tayangkan. Sampai pada akhirnya akan banyak dari kita yang masuk kelubang paling jatuh tanpa kita sadari.

“Jenis pekerjaan menjadi salah satu dampak perubahan sosial yang terjadi, seperti misalnya akan dijalalani oleh robot dengan penilaian dampak kehidupan berkelanjutan. Dan untuk perekonomian, akan ada banyak cara yg berubah salah satunya pembayaran dan pemesanan seperti travel atau tiket perjalanan. Dampak ini menyebabkan kita menjadi individual yang mementingkan kehidupan sendiri,” katanya.

Disebutkannya, Facebook, youtube, Instagram, dan whatsapp menjadi sosial media yang paling banyak diminati pada januari 2021 oleh masyarakat berdasarkan survey We Are Social. Dan menurut beliau, Sosial media dapat menurunkan makna dari demokrasi itu sendiri dikarenakan kebebasan yang terlalu bebas dalam berpendapat sehingga tidak ada lagi batas control dan etika dalam pelaksanaannya, ucapnya.

Ratno mengajak, untuk mengatur dan mengontrol demokrasi dalam bersosial media tanpa mengesampingkan nilai-nilai kebebasan dalam berbicara.

“Karena media sosial ini menjadi alat untuk pembelajaran kita, karena mau tidak mau media sosial ini akan datang juga pada kita. Peradabaan tidak akan terbentuk dengan sesuatu yg buruk. Gunakanlah media sosial ini untuk hal hal yang positif,” pungkasnya.(MS11)