Ekonomi

Pandemi Dorong Potensi Kemiskinan dan Kerawanan Pangan

mediasumutku.com| MEDAN- Badan Pusat Statistik (BPS) merilis, jumlah penduduk miskin per September 2020 sebanyak 27,55 juta orang atau setara dengan 10,19 persen dari total penduduk. Jumlah ini meningkat 0,97 persen dari tahun sebelumnya.

“(Secara nominal) jumlah penduduk miskin pada September 2020 sebesar 27,55 juta orang. Jumlah ini meningkat 1,13 juta orang terhadap Maret 2020 dan meningkat 2,76 juta orang terhadap September 2019,” sebut Kepala BPS, Kecuk Suhariyanto dalam konferensi pers secara virtual,” Selasa (16/2/2021)

Berkaitan dengan hal itu, acaman krisis pangan dunia juga telah dikeluarkan oleh Badan Pangan Dunia (FAO) jauh-jauh hari. Kondisi tersebut makin ditambah lagi dengan adanya potensi bencana yang mengintai Indonesia sejak awal tahun melalui gempa dan cuaca ekstrem. Bencana berpotensi mengganggu produksi pangan negeri.

“Pasti terdampak, misal sekarang banjir membuat daerah produsen terganggu. Demand sayuran dan cabai naik, supply terbatas akibatnya pasokan terganggu, harga naik, akhirnya sudah inflasi. Beberapa komoditas, cabe misalnya tapi yang lain juga sama,” kata Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Tauhid Ahmad.

Menurutnya, kenaikan harga menjadi beban bagi masyarakat. Sedangkan untuk mengirim komoditas pangan ke lokasi bencana juga terkadang tidak mudah, misalnya harus menerobos banjir. Namun, komoditas di daerah itu pun tidak bisa diandalkan sepenuhnya karena produksi terganggu.

“Apalagi yang terkena bencana dari daerah produksi, pasti berpengaruh ke region di lokasi tersebut, ada kelangkaan,” papar Tauhid.

Pemerintah Indonesia, dari sebelum adanya bencana awal tahun ini sudah mengantisipasi kerawanan pangan tersebut. Pemerintah melalui Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menyiapkan anggaran hampir lebih dari Rp 90 triliun untuk sektor ketahanan pangan pada tahun ini.

Melalui anggaran tersebut, pemerintah akan meningkatkan produksi pangan seperti padi, jagung, kedelai, daging, dan komoditas lain. Selain itu, sistem pangan nasional akan dilakukan revitalisasi untuk menunjang ketahanan pangan Indonesia.

Sementara berbagai pihak juga turun langsung membantu permasalahan negeri. Seperti Aksi Cepat Tanggap (ACT) melalui program-programnya yang berfokus kepada kedaulatan pangan. Salah satunya melalui program Wakaf Pangan Produktif inisiasi dari Global Wakaf- ACT.

Melalui program ini, Global Wakaf-ACT memberdayakan petani sekaligus memastikan produksi mereka berlimpah dengan dukungan dana wakaf. Hasil produksinya pun akan mengalir kepada mereka yang membutuhkan.

“Wakaf bisa mendorong manusia untuk saling mandiri, memberi, dan mencontoh keteladanan umat terdahulu dalam bermasyarakat dan bernegara. Wakaf juga termasuk instrumen keuangan tertinggi dalam sistem keuangan karena berdampak pada tujuan ekonomi dan sosial,” jelas Ahyudin selaku Ketua Dewan Pembina ACT. (MS11)

Tinggalkan Balasan