Headline

Pesta Lopat, Kegembiraan Masyarakat di Batu Bara Sumut Sambut Idulfitri

Batu Bara – Masyarakat di Desa Kwala Sikasim Kecamatan Sei Balai Kabupaten Batu Bara mempunyai tradisi unik pada malam 27 setiap bulan Ramadan dan menyambut hari raya Idulfitri. Namanya ‘pesta lopat’.

Lopat dalam bahasa lokal berarti lepat. Makanan yang berbahan baku tepung beras, dipadukan dengan ketan / pulut, gula merah, kelapa gongseng dan dibalut dengan daun pisang. Memasaknya dilakukan dengan cara direbus.

Acara pesta lopat di mana seluruh warga desa di sini memasak beragam aneka jenis lepat. Bisa terbuat dari pisang, ubi, pulut bahkan labu.

Lepat-lepat tersebut sore hari dikumpulkan oleh pemuda – pemuda desa dari rumah ke rumah dan dibagikan secara gratis kepada siapapun yang datang ke desa mereka pada pukul 21.00 WIB atau sehabis salat tarawih.

“Kalau tradisi ini sudah turun temurun ada. Mungkin puluhan tahun. Setiap malam 27 Ramadan, warga kampung sini semua memasak lepat di rumahnya masing-masing. Nanti saling bertukar lepat dan dibagi bagi,” kata tokoh pemuda setempat, Sonang Hati yang juga merupakan koordinator perayaan pesta lopat di desanya saat dikonfirmasi Wartwan, Sabtu (30/4/2022).

Lebih jauh, Sonang menjelaskan hampir seluruh masyarakat desa Kwala Sikasim bekerja sebagai pekebun dan petani di desanya. Setiap Ramadan datang, hasil panen mereka selalu berlimpah. Itulah sebabnya masyarakat kerap memasak lepat sebagai bentuk kegembiraan dan suka cita mereka pada malam 27 Ramadan dan menyambut hari Raya Idulfitri.

“Jadi sorenya sebelum buka puasa, lepat-lepat itu dikutip dari rumah ke rumah dikumpulkan di satu tempat. Kalau titik pembagiannya itu di satu lokasi namanya gapura Idulfitri pesta lopat. Disitu nanti dibagikan habis terawih,” ujarnya.

Dalam satu malam, ada puluhan kilo lopat yang dibagikan ke masyarakat secara gratis oleh pemuda desa. Lepat tersebut sebanyak tiga atau empat buah dimasukkan ke dalam plastik lalu dibagikan kepada pengguna jalan yang datang.

“Kalau yang mendapat lepat ini enggak dari warga kampung sini aja. Banyak juga warga pendatang dari desa lain ke sini khusus untuk mengambil lepat yang dibagikan,” tambahnya.

Selain bagi – bagi lepat, suasana desa kian semarak dengan pemasangan umbul-umbul hias yang dibentangkan disepanjang jalan desa. Kemudian, banyak pula warga yang masang lampu obor terbuat dari bambu dipasang di depan rumah.

Malam 27 Ramadan, dalam kepercayaan umat Islam diyakini sebagai malam terbaik untuk mendapatkan keberkahan dan pahala setara dengan diantara seribu bulan. Hal ini juga yang mendasari umat Muslim berlomba – lomba memperbanyak amal dan ibadah yang salah satu suka cita penyambutannya bagi kearifan lokal masyarakat di desa Kwala Sikasim digelar dengan ‘pesta lopat’.(MS10)