Headline Kesehatan

Tuak, Kearifan Lokal Rehabilitasi Pecandu Narkoba

mediasumutku.com | MEDAN : Kearifan lokal tampaknya menjadi alternatif mengatasi problem sosial. Minuman khas Sumatera Utara yang disebut tuak menurut anggota Komisi III DPR RI, Hinca Panjaitan kearifal lokal sebagai langkah untuk merehabilitasi para pecandu narkoba.

Pernyataannya yang viral di media social ini menyebutkan, tuak sebagai satu alternatif cara rehabilitasi. Itu dikatakannya mengkritisi makin tumbuh suburnya peredaran narkoba.

Tidak sedikit pula para korban pada usia produktif menjadi budak barang haram itu. Kearifan lokal ini, diakuinya banyak ditemui di Sumatera Utara. Yakni, minuman khas daerah tuak, yang diyakininya mampu menjadi langkah rehabilitasi pecandu narkoba.

“Korbannya (narkoba) ini besar sekali dan harus direhabilitasi. Yang sudah kena, jumlahnya 5,2 juta diseluruh Indonesia. Besar sekali. Menteri kesehatan mengumumkan ada terapi untuk kearifan lokal juga bagian dari kreatif wisata. Kearifan lokal ini banyak. Saya melihat di Sumatera Utara, juga daerah lain, sering kita minum tuak yang asli. Minum seperlunya dan baik untuk terapi narkoba,” aku Hinca saat hadir para paparan pengungkapan kasus narkoba di Polda Sumut, Selasa (26/11).

Dihadapan Kapolda Sumut Irjen Pol Agus Adrianto dan para pejabat utama Polda Sumut, Hinca yang memimpin rombongan Komisi III DPR RI dalam kunjungan ke Polda Sumut itu, menyebutkan, hal itu telah dilakukannya uji coba terhadap para pencandu narkoba.

“Saya yakin ini alternatif yang perlu kita kembangkan. Saya melakukan riset atau wawancara langsung kepada 18 orang melakukan kesaksian, mantan narkoba (pecandu). Ia bercerita, kalau kena narkoba itu galau, mata terbuka, pikiran entah kemana, tidak bisa tidur akhirnya melakukan kejahatan,” tuturnya.

“Minum tuak seperlunya, mau tidur malam. Mata tertutup, tidur nyenyak, jam 5 pagi bangun, kerja baik-baik. Narkoba ambil sedikit, masuk penjara dan rusak badan. Kalau tuak, minum seperlunya ambil manfaatnya. Kesaksian mereka, kalau sudah minum tuak seperlunya tidak ada lagi niat kesitu (berbuat jahat),” tambah Sekretaris Jenderal Partai Demokrat itu.

Namun, dirinya tegaskan, jika minum tuak tersebut sekedarnya saja dan tetap menjaga komposisi jumlah yang diminum. “Minum seperlunya dan ambil manfaatnya. Oleh karena itu, kita banyak sekali tempat-tempat (Lapo tuak) itu saya harap bisa membantu negara untuk mengatasi membuat tetapi bagi korban,” jelas mantan Komisi Disiplin PSSI itu.

Menurut, hal ini sebagai bentuk dukungan moril baginya kepada pengguna narkoba, dari segi kemanusiaan. Ide ini dilontarkannya sebagai bahan pertimbangan bagi pengguna narkoba.

“Apakah Ada risetnya? Inilah riset saya. Silahkan orang yang mau meriset silahkan. Ini sudah turun temurun dikampung-kampung. Negara bertanggungjawab terhadap satu orang pun warga negara yang kehilangan masa depan tanggungjawab negara. Kita sama-sama, mencari kearifan lokal. Saya yakin bisa dikembangkan,” pungkasnya.*