Ekonomi

Waspada, Pertumbuhan Ekonomi Sumut Terancam Stagnan

MEDAN– Badan Pusat Statistik (BPS) merilis bahwa pertumbuhan ekonomi Sumatera Utara di kuartal ketiga sebesar 3.67 persen dari tahun yang sama sebelumnya. Pertumbuhan sebesar itu memang masih jauh dari harapan akan terjadinya pemulihan ekonomi di wilayah Sumut. Konon dianggap sebagai pemulihan ekonomi, ini juga terbilang masih sangat dini kita menyimpulkannya.

“Meskipun demikian pertumbuhan ini patut kita syukuri. Meskipun PR masih banyak. Kita masih butuh waktu yang lama agar kondisi ekonomi bisa pulih sebelum pandemic. Kalau berbicara hari ini, dimana kita tengah berjibaku dengan masalah pandemi. Indikasi pemulihan seperti masa sebelum covid 19 itu baru bisa dilihat nanti di tahun 2025 mendatang,” kata Pengamat Ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin, Jumat (5/11/2021).

Dia menilai, pertumbuhan ekonomi Sumut di kuartal ketiga ini, masih ada indikasi kuat kalau ekonomi Sumut berpeluang bergerak stagnan nantinya. Tentunya dengan beberapa skenario buruk yang bisa saja terjadi.

“Dalam rilis BPS menyebutkan bahwa pertanian, perikanan dan kehutanan menyumbang pertumbuhan ekonomi di kuartal III 2021. Nah, kita semua tahu kenaikan harga komoditas pertanian menjadi salah satu kontribusi besar dalam pembentukan PDB tersebut. Tetapi kita tidak bisa berharap sepenuhnya dengan sektor ini,”katanya.

Karena Sumut yang mengandalkan sawit bakal tidak akan menikmati lagi booming komoditas tersebut.

“Saya melihat bahwa harga CPO global yang saat ini berada dikiaran 5000 ringgit per ton sulit diharapkan agar terus naik harganya. Kita harus berbicara tentang sentimen penggerak harga CPO terlebih dahulu,” sebutnya.

Harga komoditas energy belakangan mulai berguguran harganya. CPO saya kuatirkan akan terhenti lajunya di kuartal keempat tahun ini. Dan industri pengolahan yang tumbuh di kuartal ketiga tahun ini, juga sepertinya akan berhenti dengan kapasitas yang mungkin tidak akan bertambah jika dibandingkan dengan kuartal ketiga.

Selanjutnya, jasa keuangan, telekomunikasi, akomodasi makan dan minuman, jasa kesehatan dan kegiatan sosial tumbuh. Pertumbuhan di jasa keuangan maupun akomodasi makan dan minuman memang bisa menjadi indikasi bagus. Tetapi sektor telekomunikasi dan jasa kesehatan serta kegiatan sosial ini kalau boleh saya bilang pertumbuhan yang “dipaksakan”.

Artinya, karena pandemic covid 19, sektor ini “terpaksa” hidup karena serangakaian kebijakan sosial pemerintah serta upaya pemerintah dalam memerangi covid 19. Namun, sektor ini tumbuh lebih dikarenakan belanja pemerintah, bukan dikarenakan adanya pemulihan daya beli masyarakat yang bagus sehingga sektor ini mengalami kenaikan.

“Nah, satu hal yang menakutkan adalah di kuartal ketiga lapangan usaha transportasi dan pergudangan justru terkontraksi 0.4%. Ini indikasi jelas bahwa sektor produktif kita di kuartal ketiga justru kinerjanya memburuk. Ini jadi catatan penting bahwa di kuartal keempat segala kemungkinan yang memicu pertumbuhan stagnan bisa terjadi,” ujarnya.

Misalkan tambahnya, jasa kesehatan, telekomunikasi, kegiatan sosial tetap hidup. Tetapi ingat, di kuartal keempat tahun ini ada perayaan keagamaan natal dan tahun baru. Umumnya kita mengandalkan konsumsi masyarakat di lburan akhir tahun tersebut. Tetapi pemerintah sudah mengisyarakatkan bahwa tidak ada libur NATARU demi menghindar dari lonjakan kasus covid 19.

“Artinya, kita tidak bisa berharap bahwa belanja masyarakat bisa mendongkrak pertumbuhan ekonomi di wilayah Sumut,” ucapnya.

Oleh karena itu, yang diharapkan adalah belanja pemerintah (daerah) yang biasanya setiap menjelang akhir tahun kerap mengalami kenaikan.

“Tetapi, ingat konsumsi rumah tangga itu menyumbang sekitar setengah dari PDB kita. Nah, disinilah kita bisa berkesimpulan bahwa ekonomi Sumut berpeluang stagnan di kuartal keempat,” ujarnya.

Jika pertumbuhan ekonomi Sumut di kuartal III sebesar 3-4 persenan, besar kemungkinan sampai akhir tahun tetap berada di angka yang sama secara YoY (tahun berjalan).

“Jadi tumbuh, tapi tidak begitu banyak menolong. Ditambah kondisi ekonomi global juga tidak baik. Ada ancaman stagflasi, kenaikan harga pangan global, gelombang lanjutan covid 19 di banyak negara, krisis energy di negara lain dan isu global lainnya,” pungkasnya.(MS11)