Pendidikan

2.495 Lulusan Diwisuda, Ini Empat Pesan Rektor USU

MEDAN-Sebanyak 2.495 orang lulusan di Universitas Sumatera Utara (USU) diwisuda secara tatap muka di Auditorium USU, Senin (22/11/2021).

Ke 2.495 lulusan tersebut terdiri dari, Program Doktor sebanyak  23 orang, Program Magister sebanyak 275 orang, Program Pendidikan Dokter Spesialis         30 orang, Program Dokter Jenjang Magister 31 orang, Pendidikan Profesi 384 orang, Program Sarjana  sebanyak 1.555 orang dan Program Diploma sebanyak 197 orang.

Rektor USU, Dr Muryanto Amin dalam pidato wisudanya berpesan empat hal. Diantaranya, pesan pertama, wisudawan harus bangga menjadi alumni USU. Sebab, saat ini, kampus hijau USU, telah meraih pengakuan internasional, sebagai salah satu PTNBH di Indonesia, dan kampus terbaik di Indonesia terutama wilayah bagian Barat Indonesia.

“Terhitung hingga November 2021, Universitas Sumatera Utara telah meraih beberapa pemeringkatan yang dilakukan oleh lembaga penilai tingkat internasional.  Untuk pertama kalinya pada tahun 2021 ini berhasil masuk dalam pemeringkatan kampus top dunia tahun 2022 versiQuacquarelli Symonds (QS) World University Rankings (QS-WUR) di peringkat 1201+ dunia dengan QS Stars 3.Berselangkemudian, Times Higher Education (THE) Impact Rankings, dengan menduduki peringkat ke-15 perguruan tinggi di Indonesia dan peringkat 801-1000 dari 1.115 perguruan tinggi di dunia,” sebut Muryanto Amin.

Pesan kedua, lanjut rektor, setelah wisuda ini, wisudawan harus menjadi alumni USU yang memiliki motivasi kuat di dunia kerja karena bursa kerja sudah hypercompetitive labour market. Selain itu, harus menunjukkan kemampuan dan passion yang sudah di asah, saat menempuh studi di kampus, kepada dunia industri yang memerlukan solusi dari masalah-masalah yang selalu ditemukan.

“Motivasi kuat itu hanya bisa dimiliki jika saudara menjadi problem solver yaitu, alumni yang memiliki ide dan gagasan pemikiran yang rasional dan sistematis mengatasi satu atau beberapa masalah.  Saudara harus dapat menyampaikan atau mengkomunikasikan gagasan dan pemikiran itu kepada setiap orang yang anda tuju, yang sangat memerlukan dan mendengarkan ide dan pemikiran rasional anda,” jelasnya.

Pesan ketiga, kata rektor, para alumni  harus terus bertransformasi untuk merespon tiga disrupsi yang menerpa kehidupan dalam waktu bersamaan, yaitu perubahan iklim, revolusi industri 4.0, dan pandemi covid-19.Sebagaimana kampanye yang sedang gencar dilakukan di Universitas Sumatera Utara yaitu “Transformation Towards the Ultimate“.

Disrupsi ini telah membuat kegamangan global yang sama sekali baru dan belum pernah terjadi sebelumnya. Tidak ada pengalaman terbaik yang bisa dijadikan pembelajaran menghadapi ketiga disrupsi tersebut. Tidak hanya Indonesia, bahkan di banyak negara termasuk negara maju sekalipun masih merasakan kesulitan yang sama. Disrupsi kemudian menghasilkan hypercompetitive labour marketdi dunia industri.

“Cara yang bisa dilakukan agar memenuhi hypercompetitive labour marketitu adalah melakukan transformasi dalam diri sendiri melalui transformasi untuk selalu menjadi pembelajar yang tangguh. Dunia industri selalu dihadapkan pada tantangan untuk mencari solusi dari masalah kemanusiaan berikut sumber daya alamnya. Mereka yang selalu berposisi sebagai pendengar yang baik, analis yang kuat, perencana yang sistemik, eksekutor yang massif, dan evaluator yang terstruktur pasti akan selalu menemukan solusi dari masalah yang dihadapi. Itulah yang disebut pembelajar yang tangguh dan hanya bisa dilakukan dengan cara,selalu bertransformasi karena tidak mungkin semua keadaan akan berjalan secara normal,” tuturnya.

Pesan keempat, sambungnya, selalu berteman dengan berbagai orang yang berasal dari disiplin ilmu lain dan bergaul dengan industri.Permasalahan alam, sosial dan kemanusiaan yang terjadi saat ini tidak bisa lagi diselesaikan dengan satu disiplin ilmu, pasti diselesaikan dengan sangat baik menggunakan disiplin ilmu lainnya. Semua kompetensi yang dibutuhkan adalah kompetensi hybrid antara ilmu yang satu dengan ilmu lainnya.

“Tidak ada lagi superioritas ilmu pengetahuan. Mengapa? Karena di dunia sedang terjadi disrupsi yaitu perubahan besar-besaran. Sering orang mengatakan disruption is more than radical change (disrupsi itu lebih dari perubahan radikal). Disrupsi itu adalah perubahan up size down, terutama perubahan dari analog ke perubahan digital.Saudara harus memiliki kemampuan digital ekonomi yang menggunakan AIoTyang saat ini sedang terjadidan harus direspon secara cepat,” ujarnya.

Dia berharap, keempat pesan penting itu dapat dilakukan, karena diyakini akan membawa alumni meniti jenjang karir prestasi yang diimpikan.  “Kami di kampus ini, akan selalu tetap memfasilitasi, membantu dan mendoakan saudara untuk memberikan kontribusi untuk kesejahteraan saudara dan masyarakat Indonesia,” pungkasnya. (MS7)