Pendidikan

Dewan Guru Besar USU akan Gelar Seminar Bahas Selat Malaka Dalam Empat Perspektif

mediasumutku.com | MEDAN – Dewan Guru Besar Universitas Sumatera Utara akan menggelar Seminar Nasional yang mengambil tema pembahasan “Selat Malaka : Perspektif Hukum, Ekonomi, Sosial dan Politik.” Seminar akan berlangsung di Ruang Sidang Senat Akademik Gedung Biro Pusat Administrasi USU lantai 3 Medan.

Demikian disampaikan Ketua Dewan Guru Besar USU, Prof Dr dr Gontar Alamsyah, Sp PD, KGEH melalui pers release yang disampaikan kepada media. Empat narasumber yang akan mengisi seminar adalah Narasumber 1 Prof. Hikmahanto Juwana, SH., LL.M., Ph.D (Guru Besar Universitas Indonesia), Prof. Dr. H. Ediwarman, SH.M.Hum (Guru Besar Fakultas Hukum USU), Prof. Dr.lic.rer.reg. Sirojuzilam, SE (Guru Besar Fakultas Ekonomi USU) dan Prof. Subhilhar, Ph.D (Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik USU).

Seminar Nasional Selat Malaka ini dilaksanakan dengan tujuan sebagai sumber informasi pengetahuan dan pengalaman dari berbagai pakar serta stakeholders, dalam rangka memanfaatkan berbagai peluang yang ada untuk kesejahteraan dan kemakmuran seluruh masyarakat Indonesia. Sekaligus juga nantinya akan dibahas peluang, tantangan sekaligus ancaman yang ada. Peluang dan tantangan pengembangan Selat Malaka akan dibahas dari perspektif Hubungan Internasional, hukum maritim, pembangunan ekonomi dan sosial politik.

Prof Dr Dr Gontar Alamsyah Siregar mengatakan dalam rilisnya, bahwa Selat Malaka dewasa ini telah mengalami perkembangan yang sangat pesat sebagai salah satu jalur transportasi laut terpenting di dunia. Keberadaannya tidak hanya bernilai strategis (baik ekonomis maupun politik) bagi negara pantai (Indonesia, Malaysia dan Singapura), namun juga bernilai strategis bagi negara-negara pengguna (Cina, Korea, Jepang, Filipina, Negara-Negara Timur Tengah, dan lain berbagai Negara lainnya).

“Selat Malaka melintasi tiga negara, yaitu Indonesia, Malaysia, dan Singapura. Indonesia menjadi negara terpanjang yang dilintasi Selat Malaka, dan secara alamiah seharusnya menjadi negara yang paling banyak menerima manfaat dari jalur transportasi laut terpenting nomor dua di dunia. Nyatanya, Singapura dan Malaysia-lah yang menjadi negara paling banyak menikmati manfaat sebagai pelabuhan samudera, tempat bersandarnya kapal-kapal dagang (kontainer) serta kapal-kapal tanker raksasa yang membawa minyak mentah dari Timur Tengah ke Asia Timur (seperti China, Jepang, Korea, Taiwan, dan Samudera Pasifik) saat ini,” kata Prof Gontar.

Bahkan, lanjutnya, saat ini Singapura berkembang tidak hanya menjadi pelabuhan strategis, namun juga telah berkembang menjadi negara tempat pengolahan bahan-bahan mentah dari Australia, Indonesia, Malaysia, Thailand, Vietnam, dan negara-negara lainnya. Maka, tidak mengherankan jika kemajuan-kemajuan ini kemudian mengantarkan Singapura berkembang pesat dengan angka GNP per kapita yang berbading jauh dengan GNP per kapita negara-negara ASEAN lainnya.

“Indonesia sebagai negara yang berada di lintasan Selat Malaka harus dapat memperoleh manfaat yang lebih maksimal dari jalur transportasi laut terpenting nomor dua di dunia ini. Peluang tersebut antara lain telah ditindaklanjuti negara Indonesia dengan mengembangkan dan meresmikan pelabuhan bertaraf Internasional di Kuala Tanjung, Kabupaten Batu Bara, Provinsi Sumatera Utara, pada Agustus 2018 yang lalu. Maka dalam seminar nanti kita akan berdiskusi lebih jauh tentang strategi memaksimalkan peran Indonesia di kawasan ini, bersama para narasumber yang kompeten dalam bidangnya,” pungkas Prof Gontar.