Scroll untuk baca artikel
Media Sumutku Biru
Media Sumutku Biru
Media Sumutku Biru
Media Sumutku Biru
PlayPause
previous arrow
next arrow
EkonomiInternasional

Ekonomi Anjlok, PM Inggris Boris Johnson Berharap pada Tenaga Ahli Asing

×

Ekonomi Anjlok, PM Inggris Boris Johnson Berharap pada Tenaga Ahli Asing

Sebarkan artikel ini

Inggris, Mediasumutku.com– Perdana Menteri baru Inggris Boris Johnson hari Kamis (8/8/2019) menyatakan bahwa pemerintahannya membuka fasilitas “visa jalur cepat” untuk memikat para ilmuwan dan tenaga ahli asing “yang terbaik dan terhebat” datang ke Inggris.

Menurut Biro Pusat Statistik ONS seperti dilansir detik.com, Sabtu (10/8/2019, pertumbuhan ekonomi Inggris dapat kuartal kedua anjlok ke kawasan minus, yaitu menyusut 0,2 persen. Inilah untuk pertama kalinya sejak 12 tahun, perekonomian tidak tumbuh, melainkan menyusut. Pada kuartal pertama tahun ini, ekonomi Inggris masih tumbuh 0,5 persen.

Data-data ONS yang dirilis hari Jumat (9/8/2019) menunjukkan, simpang siur dan ketidakpastian soal Brexit membuat sektor manufaktur mengalami kemunduran besar. Sementara sektor konstruksi melemah dan sektor jasa, yang selama ini menjadi motor pertumbuhan, menunjukkan stagnasi.

Baca Juga:   Mendag: Tidak Ada Alasan Minyak Goreng Langka, Aparat Hukum Diminta Tegas

Mencari dukungan imigran cemerlang
“Untuk memastikan kita bisa terus memimpin dalam kemajuan pengetahuan, kita tidak hanya harus mendukung bakat yang sudah kita miliki di sini, melainkan juga memastikan sistem imigrasi kita menarik otak-otak terbaik dari seluruh dunia,” kata Boris Johnson.

Fasilitas imigrasi jalur cepat pertama-tama akan ditargetkan ke bidang teknik, teknologi dan ilmu pengetahuan lainnya, kata pemerintah Inggris.

Ketentuan baru ini akan menghapus persyaratan harus memiliki tawaran kerja lebih dulu sebelum datang ke Inggris, dan akan memungkinkan tunjangan bagi imigran untuk mengakses pasar tenaga kerja Inggris. Aturan yang baru juga menghapus pembatasan jumlah pelamar yang ingin ikut program Visa Bakat Tingkat 1.

Baca Juga:   Tumbuh Pesat di 2022, BMoney Lengkapi Produk Reksa Dana

Kalangan bisnis dan universitas memuji langkah pemerintah. Lembaga-lembaga terkemuka seperti Oxford dan Cambridge sebelumnya memang telah menyuarakan keprihatinan tentang dampak Brexit terhadap para peneliti dan tenaga berbakat mereka.

Tahun akademik 2018-2019 melihat penurunan yang signifikan dalam aplikasi ke universitas-universitas Inggris dari siswa Uni Eropa.

Boris Johnson sekarang juga berusaha untuk memperkenalkan sistem imigrasi gaya Australia berdasarkan poin, yang diberikan untuk kualifikasi pendidikan tinggi, kompetensi bahasa dan keterampilan khusus lainnya.(MS1/dtc)