Ekonomi

Harga Emas Terperosok Didorong Bursa Saham Naik

mediasumutku.com | JAKARTA – Logam mulia sebagai safe haven terluka oleh data Amerika Serikat (AS) yang optimistis yang mengisyaratkan ekonomi yang sehat. Harga emas masih bertahan di atas level US$ 1.550 setelah kemarin (16/1) tergelincir.

Selain itu, harga emas terperosok akibat bursa saham naik terdorong optimisme terhadap penandatanganan kesepakatan perdagangan AS-China tahap 1, meski tarif impor atas barang Tiongkok masih Washington berlakukan.

“Harga emas lebih lunak saat ini karena bursa saham yang lebih kuat, dan karena situasi geopolitik juga sedikit tenang terutama di Iran,” kata Bob Haberkorn, Senior Market Strategist RJO Futures, kepada Reuters.

Bursa saham dunia kemarin mencatat rekor baru, sementara indeks dolar menghapus kerugian sebelumnya, setelah beberapa rilis data pada Kamis (16/1) melukiskan gambaran ekonomi AS yang positif.

Penjualan ritel AS naik untuk bulan ketiga secara berturut-turut di Desember 209, dan indeks aktivitas manufaktur negeri uak Sam hidup kembali ke level tertinggi dalam delapan bulan terakhir.

Penjualan ritel selama musim liburan di AS naik 4,1% pada 2019, karena upah stabil dan pertumbuhan lapangan kerja mendorong pembeli untuk berbelanja bahan makanan, minuman, dan furnitur.

Kesepakatan perdagangan Fase 1 yang sangat ditunggu-tunggu ditandatangani Presiden AS Donald Trump dan Wakil Perdana Menteri China Liu He pada Rabu (15/1), meredakan perselisihan selama 18 bulan yang mengguncang pasar global.

Tapi, analis mencatat, kesepakatan itu gagal untuk mengatasi masalah ekonomi struktural, tidak sepenuhnya menghilangkan tarif, dan menetapkan target pembelian yang sulit dicapai. Sehingga, meninggalkan sejumlah titik yang belum terselesaikan.

“Dari sudut pandang banyak orang, kesepakatan itu terlihat sangat mengecewakan, masih ada banyak yang perlu diselesaikan. Itulah salah satu alasan mengapa emas bertahan di level $ 1.550,” ujar Analis OANDA Craig Erlam kepada Reuters.

“Fakta bahwa tarif (impor atas barang China oleh AS) masih berlaku memberi lebih banyak harapan bahwa (perjanjian perdagangan) fase kedua sedang ditangani dengan lebih serius,” imbuh Erlam.