Scroll untuk baca artikel
Media Sumutku Biru
Media Sumutku Biru
Media Sumutku Biru
Media Sumutku Biru
PlayPause
previous arrow
next arrow
ArtikelHeadlineMedanReligi

Keluarga Wong Chun Sen Gelar Tradisi Sembahyang Tebu

×

Keluarga Wong Chun Sen Gelar Tradisi Sembahyang Tebu

Sebarkan artikel ini

Mediasumutku.com | Medan : Keluarga Besar Anggota DPRD Kota Medan Drs. Wong Chun Sen Tarigan, M.PdB menggelar acara sembahyang Chue Kau atau biasa disebut Sembahyang Tebu yang biasa dilaksanakan pada malam ke delapan memasuki malam ke sembilan Imlek setiap tahunnya.

Tahun ini, kata Wong Chun Sen pelaksanaan sembahyang tebu dilaksanakan di rumah adiknya Chun Fuk di Jalan Yos Sudarso Lorong 14B (samping Jalan Celincing) Medan,Minggu (2/2/2020).

Keluarga Wong Chun Sen yang hadir pada acara tersebut adalah kakaknya Jek Ing, kemudian adiknya Chun Fuk, Chun Phin, Chun Hua, Yek Cen lengkap dengan keluarga masing- masing serta kedua orang tuanya Suriati dan Keling Tarigan.

Baca Juga:   Wong Chun Sen Desak Pemko Medan Segera Keluarkan Perwal Perda No.5 Tahun 2015

Lebih lanjut Wong menyampaikan, sembhayang tebu biasa dilakukan oleh seluruh warga Tionghoa, dan biasa dilaksanakan didepan rumah masing-masing dan ada juga yang melaksanakannya di klenteng.

Kegiatan ini telah menjadi tradisi turun temurun bagi seluruh warga Tionghoa. Tidak hanya di keluarga besar politisi PDI Perjuangan ini, warga Tionghoa lainnya di Kota Medan juga membakar Hio atau Gaharu Besar (dupa) di depan rumah masing-masing dan mempersembahakan berbagai macam makanan manisan dan kue serta sepasang tebu diiringi dentuman petasan.

Dilansir dari berbagai sumber, berdasarkan sejarahnya, makanan atau manisan diyakini memiliki makna akan memberikan berkah bagi keluarga mereka, dan beberapa makanan juga disajikan dan dipersembahkan untuk Dewa Langit.

Baca Juga:   DPRD Medan Gelar Paripurna Agenda Nota Jawaban Walikota Medan Perubahan APBD TA 2022

Berbagai sajian yang biasa disajikan yaitu Thi Kue atau kue keranjang manis yang melambangkan agar kehidupan mereka di tahun baru Imlek (tahun Tikus Logam ) ini akan selalu manis-manis. Sedangkan Jeruk , dalam bahasa Hokkian sering disebut Kiat atau Kam yang mempunyai arti emas, jadi mengharapkan rezeki ditahun mendatang banyak mendapatkan Emas.

Sembahyang ini identik dengan tebu, tebu mempunyai rasa manis sehingga memiliki makna agar kehidupan kita ke depan selalu tetap manis dan panjang seperti tebu. Disamping itu tebu mempunyai sejarah bagi suku Hokkian, dimana pada saat suku Hokkian merayakan Imlek didatangi oleh suku Manchu.
Dan karena suku Manchu menyerang dalam jumlah yang banyak, sehingga suku Hokkian kalah dan lari bersembunyi dalam kebun tebu, namun orang-orang suku Hokkian ini dapat selamat dan keluar dari kebun bersamaan dengan hari ke delapan malam Imlek.

Baca Juga:   Refleksi Akhir Tahun, Wong Chun Sen Kritisi Masalah Kesehatan dan Kemiskinan

Itu sebabnya, sembahyang tebu dilaksanakan untuk menyampaikan rasa syukur dan terimakasih kepada Tuhan karena Tuhan telah menolong orang Tionghoa khususnya yang bersuku Hokkian pada saat itu.