Medan

Putuskan Penyebaran Covid-19, Pemko Medan Tambah Tempat Isolasi

mediasumutku.com|MEDAN- Selain menumbuhkan kesadaran masyarakat agar menerapkan protokol kesehatan. Pemerintah Kota Medan menambah tempat isolasi untuk penanganan Covid-19.

Selama ini, Pemko Medan juga telah menyiapkan tempat isolasi di Gedung Pusat Pengembangan dan  Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (P4TK) di Jalan Setia Budi, Kecamatan Medan Helvetia. Terdapat 120 kamar di Gedung ini yang dapat dijadikan ruang isolasi.

Namun, guna mengantisipasi lonjakan warga yang terkonfirmasi Covid-19, Bobby Nasution pun mencari tempat alternatif isolasi lain. Dia meninjau bekas Hotel Soechi di Jalan Cirebon Medan yang merupakan aset Pemko Medan itu.

“Penambahan tempat isolasi menjadi upaya dalam memperkuat penerapan testing, tracing, dan treatment,” ucap Bobby Nasution di sela-sela peninjauan bekas Hotel Soechi di Jalan Cirebon Medan, belum lama ini.

Menurut Bobby Nasution, bekas Hotel dengan 247 kamar ini cukup representatif digunakan sebagi tempat isolasi.

“Tidak hanya menjadi tempat isolasi, tapi juga dapat difungsikan sebagai rumah sakit darurat untuk penanganan awal pasien bergejala ringan,” sebutnya.

Bobby Nasution juga telah menggandeng Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) RI dan Kementerian Kesehatan untuk merealisasikan bekas Hotel itu menjadi tempat isolasi.

Akademisi Universitas HKBP Nommensen, dr. Okto P.E. Marpaung, M.Biomed mendukung rencana Bobby Nasution menyiapkan tempat isolasi. Dia mengatakan, isolasi penting bagi orang yang positif Covid-19 agar tidak menularkan virus tersebut kepada orang lain.

Wakil Dekan III Fakultas Kedokteran Universitas HKBP Nommensen itu berpendapat, isolasi harus dilakukan terutama pada warga positif Covid-19 yang tinggal di wilayah padat penduduk dan tingkat kepatuhan protokol kesehatannya rendah.

“Dua kuncinya, warga positif Covid-19 itu berasal dari wilayah padat penduduk dan tingkat kepatuhan prokesnya rendah,” ucapnya, Jumat (23/7) malam, seraya  mengatakan, dengan mengacu kepada kriteria tersebut, usaha memutus mata rantai penyebaran Covid-19 akan lebih besar dampaknya.

Menurut Kepala Departemen Farmakologi dan Terapi Universitas HKBP Nommensen itu, warga positif Covid-19 yang tinggal wilayah tidak padat penduduk (ada jarak antarrumah) dan mempunyai kamar tersendiri dapat melakukan isolasi mandiri. Artinya, tidak menggunakan tempat isolasi yang disiapkan oleh pemerintah.

“Karena itu, kepala lingkungan, lurah, maupun camat harus aktif memantau masyarakat,” ucapnya.

Menyinggung tempat isolasi, Okto mengingatkan, agar benar-benar memperhatikan antara lain soal kebersihan, sirkulasi udara yang baik, akses untuk mendapatkan sinar matahari, ketersediaan air bersih mengalir yang memadai, tidak menggunakan karpet, serta pembersihan dan desinfeksi ruangan secara berkala.

Pada bagian lain, Okto juga menyarakankan agar patroli prokes terus digencarkan. Dia mengingatkan agar petugas patroli tidak hanya fokus pada patuh atau tidaknya pelaku usaha mematuhi ketentuan dan waktu operasional.

“Kepatuhan pelaku usaha terhadap 5M, terutama memakai masker, harus diperhatikan oleh petugas,” ucapnya.

Penggunaan masker itu, lanjut Okto, adalah ikhtiar untuk mencegah penularan. Pencegahan itu lebih baik dari pengobatan.

“Sebenarnya harus dari hulunya dulu kita perkuat. Dan pemakaian masker ini merupakan penguatan di hulu. Tracing dan tes itu hilir. Di hulunya, di pangkalnya itu adalah prokes, terutama pengunaan masker. Pemerintah bisa saja memprogramkan untuk membagikan gratis masker kepada warga seraya mengedukasi tentang penggunaan masker yang benar,” ucapnya. (MS7)