Berita Sumut Headline Pendidikan Sumut

Riad Madani Tetap Konsisten Bangun Karakter Peserta Didik Sejak Usia Dini

PERCUT SEI TUAN : Tantangan dunia pendidikan saat ini adalah bagaimana mendidik anak tidak hanya cerdas atau pintar dalam berbagai disiplin ilmu, tapi yang terpenting adalah selain menghasilkan sumber daya manusia (SDM) berkualitas juga harus dibarengi dengan SDM berkarakter.

Demikian disampaikan Ketua Yayasan Pendidikan Riad Madani Dra. Hj. Sukmawati Nasution didampingi Kepala Sekolah SD Ade Suhendra Wahyu Lubis, S.Pd saat ditemui di Sekolah Riad Madani, Sabtu (8/10/2022).

“Sejak awal didirikan, pembangunan karakter menjadi hal yang paling penting di sekolah Riad Madani, setiap pagi sebelum pelajaran sekolah dimulai selalu diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Quran dan doa bersama,” kata Sukmawati Nasution.

Membangun karakter tidak semudah membalik telapak tangan, lanjutnya. Membangun karakter juga dimulai dari keluarga. Karakter akan membentuk kita untuk bisa menerima orang lain, menerima kekurangan dan kelebihan orang lain, bekerjasama dengan orang lain dan membangun kebersamaan dalam menyelesaikan sebuah persoalan.

“Karakter juga akan membentuk kita untuk memiliki kemampuan kerjasama, kolaborasi antar sesama teman satu kelompok dan beda kelompok, kemampuan menerima keadaan tanpa iri hati dengan orang lain. Kemampuan menerima kemenangan dan kekalahan. Sifat dan jiwa sportif harus dibangun sejak dini dan terus dipupuk setiap saat secara berkesinambungan. Karakter sabar, penolong, kemampuan menerima kenyataan dan tetap optimis menjadi sangat penting dalam pendidikan dan kehidupan anak sehari-hari,” tandasnya.

Sementara Kepala Sekolah SD Ade Suhendra Wahyu Lubis menyampaikan bahwa pasca Pandemi Covid-19 ada sesuatu hal menjadi kendala dalam pembentukan karakter anak. Dimana, peserta didik yang dulunya masih kelas 1 SD, dan setelah pola pembelajaran tatap muka digelar, mereka sudah kelas 3 SD.

“Salah satu tugas berat kita adalah bagaimana menyadarkan anak dan mengingatkan mereka bahwa saat ini yang dulu duduk di kelas 1 SD, pada saat pembelajaran tatap muka sudah naik ke kelas tiga. Kenyataan yang kita hadapi dilapangan adalah raga anak sudah kelas 3 SD, atau kelas 6 SD, tapi jiwanya masih kelas 1 atau kelas 3 SD. Menyadarkan anak agar jiwa dan raganya bisa sinkron tidak mudah, karena pembelajaran daring selama ini membuat mereka kesulitan untuk saling mengenal,” papar Ade Suhendra Wahyu Lubis.

“Itu sebabnya, upaya penyadaran peserta didik agar jiwa dan raganya berada di satu tempat yang sama tidak mudah,” kata Ade.

Yang pasti, tambahnya upaya untuk menyadarkan peserta didik agar jiwa dan raganya berada di kelas yang sama harus dilakukan dengan hati-hati.

“Kembali ke pananaman budi pekerti dan karakter, setiap siswa dididik tidak hanya memiliki kecerdasan akadmik, tapi juga kecerdasan emosional dan kecerdasan spritual,” tegasnya.