Scroll untuk baca artikel
Media Sumutku Biru
Media Sumutku Biru
Media Sumutku Biru
Media Sumutku Biru
PlayPause
previous arrow
next arrow
Ekonomi

Pergerakan Rupiah Cenderung Stabil

×

Pergerakan Rupiah Cenderung Stabil

Sebarkan artikel ini

mediasumutku.com | JAKARTA – Pada penutupan perdagangan kemarin kurs rupiah menguat tipis. Pergerakan yang cenderung stabil ini berkat gabungan data global dan domestik yang memengaruhi mata uang garuda.

Melansir Bloomberg, kurs rupiah hanya menguat 0,01% ke level Rp 14.162 per dolar AS. Sebaliknya, di kurs tengah Bank Indonesia (BI), rupiah melemah 0,1% menjadi Rp 14.170 per dolar AS.

Menanggapi hal tersebut, Direktur PT Garuda Berjangka Ibrahim, penguatan rupiah yang tipis karena ada tarik menarik data global dan domestik. Data global mayoritas memberikan sentimen negatif dan data domestik menahan koreksi rupiah.

Sentimen global, Ibrahim bilang, datang dari pembicaraan perdagangan antara AS dan China yang akan berlangsung pekan ini. Tiongkok mulai meragukan kesuksesan negosiasi tersebut.

Baca Juga:   Sesi I, IHSG Betah Bertengger di Zona Merah

Pemicu keraguan China adalah laporan yang menunjukkan, delapan perusahaan teknologi negeri tembok raksasa masuk dalam daftar hitam AS. “Mereka dituduh terlibat dalam pelanggaran HAM terhadap minoritas muslim di Provinsi Xinjian,” ujar Ibrahim.

Selain itu, Ibrahim menyebutkan, masalah yang terjadi pada Presiden AS Donald Trump kembali meningkat. Trump telah diperintahkan Pengadilan New York untuk menyerahkan pengembalian pajak pribadi dan perusahaan selama delapan tahun.

Satu-satunya sentimen positif dari eksternal datang dari kebijakan Gubernur Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell. Dalam rapat The Fed pekan lalu, ia mengindikasikan rencana penurunan suku bunga lagi sebesar 25 basis poin.

Ibrahim mengatakan, saat ini pelaku pasar sedang menunggu rilis notulensi rapat tersebut. “Keputusan itu sepertinya tidak bulat dan masih ada anggota yang ingin kebijakan moneter tidak terlampau dovish,” imbuh Ibrahim.

Baca Juga:   Komentar Donald Trump 'Hantui' Pasar Saham Asia