Headline Medan Nasional Pendidikan Politik Religi

Alumni Kairo dan Mekah Pengaruhi Nasionalisme Indonesia

mediasumutku.com I Medan: Perkembangan sejarah Indonesia yang dimulai pada masa awal-awal abad ke 19 hingga masa kemerdekaan dinilai banyak dipengaruhi oleh gerakan para ulama yang mengenyam ilmu di Kairo (Mesir) dan di Mekah (Arab Saudi). Sehingga keberadaan para ilmuwan sekaligus ulama pada masa itu sedikit banyak telah mempengaruhi nasionalisme Indonesia.

Demikian ‘benang merah’ yang dapat ditarik dalam Seminar Daring (virtual)
‘Relasi Kairo dan Haji dalam Jejaring Nasionalisme Indonesia’ yang diadakan berkaitan dengan Dies Natalis ke 55 Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara (USU) Medan tanggal 31 Agustus 2020 lalu.

Seminar secara virual yang mengambil topik ‘Relasi Kairo dan Haji Dalam Jejaring Nasionalisme Indonesia’ ini dan diikuti oleh 143 peserta ini menghadirkan tiga pembicara utama masing-masing adalah, Prof. Dr. M. Dien Madjid dari Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Martin van Bruinessen (ahli sejarah Islam Indonesia dari Ultrecht University, Netherland), dan Prof. Dr. Azumardi Azra, M.A.(Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta).

Dalam paparannya, Prof. Dr. Muhammad Dien Madjid dari Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta mengatakan bahwa pada masa awal abad ke 19 dan awal abad ke 20, pelaksanaan haji yang dilakukan orang-orang Indonesia di Mekah telah menjadi momentum dan usaha menggalang dan memupuk nasionalisme para warga Indonesia saat itu.

“Berhaji di masa kolonial Belanda, seyogyanya adalah perjalanan yang mengandung banyak maksud. Selain beribadah, haji juga digunakan untuk memperdalam ilmu agama, dan bertukar pikiran dengan para jamaah haji lainnya tentang keadaan negeri-negeri mereka. Oleh sebab itu, banyak di antara orang yang pergi haji, memutuskan bermukim di Mekah.
Di Mekah, terdapat perkampungan khusus orang nusantara yang penduduknya dikenal sebagai Ashab al-Jawiyyin,” ungkap Dien.

Di abad 19, sudah ada ulama Nusantara yang berkiprah di Mekkah, seperti Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, Syekh Abdul Ghani Bima, Syekh Mahfuz al-Termasi dan Syekh Abdul Samad al-Falimbani.

“Mereka adalah guru dari ulama pembaharu Indonesia seperti K.H. Hashim Asy’ari dan K.H. Ahmad Dahlan. Kesempatan berjumpa dengan para haji dari negara yang dijajah Eropa digunakan untuk bertukar siasat menghadapi kolonialisme di masing-masing negara. Inilah yang menyebabkan mengapa haji begitu diwaspaspadai kolonial sepulangnya mereka dari Tanah Suci Mekah,” kata Dien.

Sementara itu, Prof. Azumardi Azra, mengatakan pada akhir abad 19 dan awal 20, Islam Indonesia dengan Islam di Timur Tengah, Asia Selatan dan kawasan dunia Islam yang sudah terbentuk sejak akhir abad 16. Menurut Azumardi lulusan Timur Tengah sejak akhir abad 19 memiliki peran penting dalam pembentukan dan pertumbuhan nasionalisme Indonesia.

Hal ini, menurut dia, antara lain karena pengaruh modernisme Islam yang tengah bangkit di Timur Tengah. Dia menyebutkan ulama Indonesia alumni Timur Tengah seperti Nawawi al-Bantani dan Ahmad Khatib al-Minangkabawi telah melakukan kritik terhadap esotorisme Islam (ibadah yang cendrung dianggap sebagai bid’ah).

“Munculnya kritisisme yang tajam terhadap tarekat dari Nawawi al-Bantani dan Ahmad Khatib al-Minangkabawi sesungguhnya mencerminkan terjadinya transisi wacana intelektual dan gerakan Islam sedikitnya sejak perempatan abad 19. Transisi itu jelas sangat dipengaruhi perubahan-perubahan wacana intelektualisme dan gerakan Islam di Timur Tengah secara keseluruhan. Meski peran alumni Kairo cukup sentral dalam mendorong dan menyebarkan gagasan-gagasan modernisme Islam dan nasionalisme Melayu,” kata Azumardi.

Sementara itu, Prof. Martin van Bruinessen, dalam paparannya mengatakan bahwa dalam masa kolonial Belanda di Indonesia awal abad ke 19, sesungguhnya ajaran Islam yang dibawa para ulama alumni Kairo dan Mekah sudah bergerak bersama dengan misi perdagangan melalui bahasa Melayu yang mempersatukan bangsa Indonesia.

Martin mengatakan kolonial Belanda ikut mempengaruhi munculnya persatuan dan nasionalisme Indonesia. “Kolonial Belanda melalui jajahannya telah mempersatukan Indonesia dari Sabang hingga Merauke. jaringan kolonial dan jaringan perdagangan Islam dan Melayu turut mempersatukan Indonesia,” ujarnya.

Menurut Martin, para warga Indonesia abad ke 18 dan 19 yang menunaikan ibadah haji sekaligus menuntut ilmu di Mekah maupun yang menuntut ilmu di Kairo.

“Mekah dan Kairo dianggap sebagai tempat belajar. Namun dua tempat itu juga dianggap sebagai jendela ilmu pengetahuan sehingga orang-orang Indonesia seperti Syech Ahmad Katib ikut memberikan pengaruh dalam membentuk nasionalisme di Indonesia,” kata Martin. (MS5)