Headline

Melihat Sibuknya Usaha Pembuat Kue Lebaran di Asahan

ASAHAN – Ramadan menjadi kesempatan penambah penghasilan bagi ibu-ibu pembuat kue kering di Kisaran, Kabupaten Asahan, Sumatera Utara (Sumut).

Keberadaan kue – kue saat hari raya, telah menjadi tradisi dan biasanya dihidangkan menemani tamu yang datang bersilaturahmi saat Idul Fitri.

Salah satu lokasi pembuatan kue kering lebaran yang saat ini sedang repot-repotnya kebanjiran orderan dan banyak diminati warga di Asahan adalah rumah kue Difa, beralamat di Jalan Maria Ulfa Kelurahan Mutiara Kabupaten Asahan.

Pemilik usaha, Devi Agustina mengaku sudah mulai kebanjiran orderan sejak awal puasa. Pesanan kebanyakan datang dari pelanggan tetap atau dari hasil pemasarannya melalui sosial media.

“Alhamdulillah sudah mulai banjir pesanan ini dari awal puasa. Biasa memang ada dari langganan setiap tahun ada yang dijual lagi ada juga yang makan sendiri,” ujar Evi saat berbincang dengan wartawan, Minggu (10/4/2022).

Evi bukanlah pembuat kue musiman, sebab dia tak hanya menjual kue saat lebaran tiba. Usaha itu telah dirintisnya bersama keluarga sejak 10 tahun lalu. Namun saat Ramadan datang pesanannya naik berkali-kali lipat. Ia sampai mempekerjakan tetangga untuk membantu membuat kue.

“Jadi mulai repotnya itu sudah dari hari-hari pertama puasa. Sampai panggil tetangga sekitar sini ada sekitar 15 orang. Sisanya pekerjanya keluarga semua,” kata dia.

Sehari, dia mengaku bisa membuat dua jenis kue sebanyak 60 kilogram berdasarkan pesanan yang dikerjakan mulai dari jam 8 pagi hingga 5 sore.

“Kalau jenis kue yang dibuat ada sampai 25 jenis. Macam macam lah, ada kue bawang, kue bangkit, kue-kue jaman dulu. Paling laris dan cepat habis itu kue nastar isinya nanas ada kurma juga,” kata dia.

Untuk satu jenis kue yang di-packing dalam satu kemasan plastik maupun toples, dijual seharga Rp 70 – 100 ribu.

“Kalau pesanan sekarang ramai terus. Ini nanti baru berhenti (membuat kue) sampai dua hari sebelum lebaran,” kata dia.

Kue-kue yang dijual Evi nyatanya tak hanya dibeli oleh warga sekitar tapi banyak dijual kembali oleh pelanggannya hingga luar daerah.

Kendati demikian, kenaikan harga minyak goreng akhir-akhir ini cukup berdampak pada penjualan kuenya. Namun hal itu disiasati dengan menaikkan sedikit harga jual untuk menutupi mahalnya biaya produksi.

“Minyak naik berdampak juga. Tapi kita enggak mau rasa kuenya yang berubah jadi dinaikkan sedikit harga jualnya,” kata dia.

Meski demikian, ia masih optimis Ramadan kali ini pesanan kuenya tetap dibanjiri pelanggan seperti tahun sebelumnya. (MS10)