Scroll untuk baca artikel
Media Sumutku Merah
Media Sumutku Biru
Media Sumutku Merah
Media Sumutku Biru
previous arrow
next arrow
HeadlineNasionalPerkebunan & Pertanian

Mengejar 3 Kali Musim Tanam di Sawah Tadah Hujan, Petani Marongge Tomo Sumedang Gunakan Sistem Pompanisasi

×

Mengejar 3 Kali Musim Tanam di Sawah Tadah Hujan, Petani Marongge Tomo Sumedang Gunakan Sistem Pompanisasi

Sebarkan artikel ini
Bincang Tipis-Tipis Host Tale Trias Info Erman Tale Daulay dengan Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Sumedang, Sajidin, S Hut, MT beserta kelompok tani dan unsur TNI/Polri di areal sawah tadah hujan seperti dilansir dari Youtube Tale Trias Info, Kamis (25/4/2024)

mediasumutku.com | SUMEDANG- Salah satu upaya yang bisa dilakukan petani untuk memenuhi kebutuhan air usaha taninya adalah dengan sistem pompanisasi. Pompanisasi adalah proses mengairi lahan pertanian dengan cara memompa air dari sungai, danau, sumur atau sumber air lainnya. Proses ini menggantikan sistem irigasi yang tidak berjalan atau bahkan untuk lahan pertanian yang tidak terdapat infrastruktur irigasi, seperti sawah tadah hujan yang ada di Desa Marongge Tomo Sumedang.

Dalam Program Bincang Tipis-Tipis Host Tale Trias Info Erman Tale Daulay dengan Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Sumedang, Sajidin, S Hut, MT beserta kelompok tani dan unsur TNI/Polri di areal sawah tadah hujan seperti dilansir dari Youtube Tale Trias Info, Kamis (25/4/2024) mengupas terobosan petani dalam menyediakan air untuk usaha taninya hingga bisa tiga kali musim tanam.

Sistem Pompanisasi jadi solusi untuk pertanian dengan sawah tadah hujan

Dari kawasan persawahan Desa Marongge, Tomo, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat perbincangan diawali dengan upaya yang dilakukan untuk kemajuan sektor pertanian. Karena, salah satu kendala yang menjadi momok bagi petani dulu adalah air.

“Masalah ketersediaan air ini acap kali menjadi kendala bagi petani dalam berbudidaya. Pemkab Sumedang mengatasi persoalan air di daerah sawah tadah hujan ini dengan pompanisasi. Program pompanisasi mejadi solusinya. Kita menyedot air dari sumber air, yaitu sungai. Air kita tarik ke sawah tadah hujan sehingga yang tadinya bisa dua kali musim tanam kita pacu menjadi 3 kali musim tanam,” kata Kadis Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Sumedang, Sajidin.

Baca Juga:   Hadiri Acara Adat Jamu Laut, Wabup : Tradisi Budaya Harus Dilestarikan

Karena ini kawasan sawah tadah hujan, lanjut Sajidin di masa lalu ini cuma sekali tanam setahun dengan adanya pompanisasi sudah dua kali setahun bahkan bisa tiga kali karena sumber air sungai tidak ada masalah.

“Alhamdulillah, berkat bantuan dari Pak Presiden Jokowi dan pak Menteri Pertanian yang berkolaborasi dengan Pemkab Sumedang, program pompanisasi di Sumedang berjalan sesuai harapan petani,” katanya.

Saat ditanya bagaimana ke depan agar pompa itu bisa berfungsi aktif terus dan terawat dengan baik, maintenance-nya bagus sehingga bisa dipergunakan lama.

Menurut Kadis Pertanian Sumedang, kelompok tani menunjuk orang yang mengurusnya supaya ada yang bertanggung jawab untuk ke depannya. Kelompok tani biasanya seringkali menjadikan gesekan-gesekan ini kalau enggak diatur dengan baik jadi di situ intinya ya ada kepengurusan yang mengatur, ada anggaran dasar anggaran rumah tangga.

Mudah-mudahan dengan adanya pak Babinsa dan Babinkamtibmas bisa memacu para petani untuk lebih giat berbudidaya,” tegasnya.

Baca Juga:   Terkait Dugaan Korupsi KPU Binjai, FAMBI: Kasus Belum Jelas Ditangan Kejari

Babinsa Rahmat menyampaikan bahwa program dari KASAD Jenderal Maruli Simanjunta menekankan khususnya kami yang di daerah sebagai ujung tombaknya TNI yang tahu lokasi termasuk keluhan kelompok tani. Gimana caranya supaya petani itu sejahtera, nah kami ditekankan kebetulan MoU antara Mentan dengan Kasad diteruskan ke dinas kabupaten.

“Alhamdulillah tercipta program pompanisasi menjadi contoh untuk membantu dan mendukung mensukseskan program kelompok tani supaya para petani sejahtera,” tandasnya.

Kemudian, Rahmat menyampaikan untuk program pelatihan-pelatihan apa yang diberikan ke petani agar lebih bertenaga lagi dalam berbudidaya, Babinsa berkoordinasi dengan PPL UPTD kebetulan di fasilitasi sama Dinas Pertanian Kabupaten Sumedang.

Sebelumnya, awal April lalu, Menteri Pertanian (Mentan) Indonesia Andi Amran Sulaiman meninjau pompanisasi di areal pesawahan Desa Marongge. Kecamatan Tomo. Mentan Andi Amran Sulaiman mengatakan pompanisasi untuk meningkatkan produksi pertanian.

“Saya mengecek pompanisasi di Sumedang yang sudah berjalan dengan baik. Turun ke lapangan untuk mengecek memastikan contoh bangunan pompa,” kata Mentan Andi Amran.

Menurutnya, pompanisasi di Sumedang merupakan contoh pompanisasi terbaik yang dikunjungi. “Ini cara pasang pompanya dan terbaik hasilnya selama kami keliling. Kami minta kepada seluruh jajaran Kementan pemasangan pompa di Sumedang menjadi contoh di seluruh Indonesia ini yang benar,” ujarnya.

Baca Juga:   74 Unit Sepeda Motor Diamankan Selama Ops Patuh Toba di Tanjungbalai

Mentan menyebutkan, potensi sawah di Jawa Barat seluas 343 ribu hektare. Maka jika 300 ribu hektar bisa diairi, maka akan meningkatkan produktivitas padi hingga 200 persen, dan nilainya mencapai Rp 15 triliun. Bisa dibayangkan kalau Rp 15 triliun ini bergerak maka akan ada multiflayer efek, ekonomi bergerak di tingkat desa dan menjadi kebahagian petani,” kata Mentan Andi Amran.

Areal sawah di Desa Marongge merupakan sawah tadah hujan yang hanya bisa panen satu kali selama setahun. Dengan pompanisasi dari Sungai Cilutung diharapkan bisa panen tiga sampai empat kali dalam setahun. Pompanisasi dari Sungai Cilutung bisa mengalirkan air 20 liter per detik untuk mengairi 51,6 hektare sawah di Desa Marongge.

Mentan Amran mengatakan Kementen melalui progam pompanisasi siap mengairi ratusan ribu hektar sawah tada hujan agar bisa meingkatkan produksinya ditengah ancaman el nino. Menurutnya, ada 343.000 hektar yang berpotensi diairi. Akan tetapi kami menargetkan sekitar 300.000 lahan bisa terairi dengan pompanisasi dan diproyeksi bisa meningkatkan produksi pangan hingga 200 persen.