Berita Sumut Pendidikan

Akselerasi Candu Buku Tak Kenal Waktu Pelajar di SMA Swasta Daerah Kisaran

oleh : Suri Kartika (Guru Ekonomi SMA Swasta Daerah Kisaran)

Perkembangan teknologi digital yang sangat pesat khususnya dalam dunia informasi memberikan berbagai kemudahan bagi manusia. Namun selain beragam kemudahan yang diberikan lewat kecanggihan teknologi informasi, banyak juga hal negatif yang harus diantisipasi.

Saat ini, perkembangan teknologi informasi juga memberikan dampak yang cukup mengkhawatirkan bagi pengembangan literasi masyarakat khususnya pelajar yang kepekaan minat baca mereka terus berkurang jika tak dimotivasi atau mendapat dukungan.

Saat ini, para siswa lebih kebanyakan lebih sibuk mengikuti tren media sosial dari gawai di sela waktu luang pelajaran. Ketidakpedulian orang tua ikut memberikan pengaruh terhadap kondisi ini. Kecenderungan melahirkan karakter egois pada anak – anak.

Hal inilah yang mendorong SMA Swasta Daerah Kisaran untuk berakselerasi menumbuhkan kecanduan buku bagi para pelajar di sana dengan membuka lebar pintu perpustakaan saban waktu khususnya di luar jam-jam pelajaran.

Persoalan membangkitkan literasi pelajar untuk candu terhadap buku memang bukanlah perkara mudah. Namun hal tesebut tak akan pernah diketahui jika tak segera dicoba. Sebagai guru mata pelajaran ekonomi di sekolah ini, gerakan ini sudah saya mulai pada awal tahun ajaran 2022/2023 kemarin.

Saya memulai gerakan ini dengan menyelami internal kepustakaan sekolah mencari tau pola manajemen administrasi, membantu penataan rak buku dan sejenisnya termasuk mencari tau minat buku apa saja yang paling disukai para pelajar jika masuk ke perpustakaan.

Dari hasil observasi internal analisis sederhana hingga wawancara yang saya lakukan di dalam perpustakaan tersebut saya berupaya memotivasi Ibu Kartina Astuti, seorang pustakawan sekolah sekaligus penjaga perspustakaan yang menggawangi ratusan koleksi buku di ruangan 4 kali 7 meter itu. Sudah hampir 25 tahun ia menjadi juru kunci buku di sana.

Kartina butuh motivasi. Hal ini yang saya lakukan untuk menyemangati beliau di tengah persiapan masa pensiunnya mengabdi untuk sekolah. Saya katakan kepada beliau untuk tetap semangat dan saya memiliki cita-cita yang sama dengan apa yang dibenaknya saat itu yakni meramaikan lagi perpustakaan ini dengan kehadiran para siswa-siswi.

Kami mulai menyortir koleksi buku – buku yang ada. Memilahnya menjadi mana yang dalam kondisi baik, serta layak baca. Seberes merapikan, menata dan mempercantik ruang pustaka bersama Ibu Kartika, saya kembali berfikir bagaimana caranya menciptakan alasan anak –anak ini betah berlama lama di dalam perpustakaan dan salah satu caranya yakni dengan menambah banyak koleksi buku-buku baru. Beberapa pojok bacaan juga disediakan sofa khusus yang nyaman untuk mereka agar betah berlama-lama.

Usaha saya memulai menambah koleksi buku ini saya mulai dari diri sendiri. Saya berfikir untuk menghibahkan sebagian buku – buku yang saya punya ke dalam perpustakaan agar koleksinya bertambah. Rencana ini saya sampaikan kepada rekan guru lainnya dan respon sekaligus antusiasnya luar biasa.

Iseng, saya rajin berselancar mencari bantuan penambahan buku-buku ini ke pihak ke tiga. Responnya positif. Semangat ini didukung oleh banyak pihak yang ikut membantu.

Seiring berjalannya waktu, keberadaan perpustakaan dengan wajah dan koleksi buku terbarunya ini dengan cepat mulai ‘meracuni’ siswa. Perpustakaan hampir tak pernah tutup dengan kunjungan para siswa/i kami.

Puncaknya, pada Hari Literasi Nasional yang jatuh pada tanggal 8 September lalu saya mengajak seluruh guru dan siswa untuk membaca bersama selama 15 menit di halaman sekolah. buku- buku non teks yang ada di perpustakaan seluruhnya kami keluarkan dan disusun di atas meja. Siswa dan guru dipersilahakan untuk memilih dan membaca buku yang tersedia. Kemudian mereka mengambil tempat duduk yang nyaman bagi mereka untuk membaca buku tersebut. Setelah 15 menit, seluruh siswa mengembalikan buku dan menyusun kembali di meja yang tersedia dan masuk ke kelas masing-masing.

Setelah di dalam, guru memilih dua orang siswa secara acak dan meminta mereka untuk menyampaikan isi buku yang sudah dibacanya. Dengan antusias dan bangga siswa tersebut menyampaikan hal yang didapat dari buku yang dibacanya. Beberapa siswa mengatakan bahwa mereka sangat senang membaca buku tersebut. Mereka juga memberi usulan agar mereka diberi kesempatan lagi untuk bisa membaca buku-buku yang ada di perpustakaan. Bahkan mereka sampai antusias meminjam buku-buku tersebut untuk dibawa. Dari sini, saya belajar bahwa semangat literasi terhadap budaya membaca buku ini memang perlu dorongan dukungan.

Salah seorang siswa kelas XI bernama Raudhatul Syifa mengatakan bahwa dia senang karena diperbolehkan meminjam buku di perpustakaan. Ia senang membaca buku-buku yang menceritakan tentang kesuksesan seseorang, karena dia menjadi terinspirasi den menjadi lebih semangat belajar untuk mencapai cita-cita sebagai orang sukses di masa depan.

Senada dengan Sofia, yang selama ini sukanya hanya bermain tiktok sekarang sudah mulai berkurang karena hari-harinya diselingi dengan hobi barunya membaca buku.
Tentunya, saya berharap semangat literasi ini dapat terus ditingkatkan dan dipertahankan hingga memberikan virus terhadap pelajar lainnya. Semoga.