Scroll untuk baca artikel
Media Sumutku Merah
Media Sumutku Biru
Media Sumutku Merah
Media Sumutku Biru
previous arrow
next arrow
Media Sumutku Merah
Media Sumutku Biru Muda
Media Sumutku Merah
Media Sumutku Biru Muda
previous arrow
next arrow
BermartabatHeadlinePendidikanSumut

Bangun SDM Unggul, Indonesia Jangan Bergantung Kepada SDA

×

Bangun SDM Unggul, Indonesia Jangan Bergantung Kepada SDA

Sebarkan artikel ini

mediasumutku.com I Medan: Keberhasilan suatu bangsa tidak dapat dilepaskan dari pengaruh negara lain. Oleh karena itu, jika Indonesia hendak menjadi negara maju maka pilihannya adalah meniru strategi kemajuan pembangunan di suatu negara maju. Selain meniru negara maju, yang tidak kalah pentingnya adalah Indonesia harus melakukan peningkatan kualitas manusianya. Sudah bukan saatnya lagi Indonesia mengandalkan sumber daya alamnya (SDA) untuk membangun Indonesia.

“Kalau kita memiliki komitmen untuk maju, maka kita harus mau belajar dari negara-negara maju lainnya. Kita tidak boleh lagi terlena tergantung dan mengandalkan sumber daya alam. Nanti kita kena kutukan SDA. Negara harus berinvestasi kepada human capital,” ujar Koordinator Staf Khusus Presiden RI Dr. AAGN Ari Dwipayana, MA dalam kuliah umum daring kepada sekitar 750 mahasiswa baru FISIP Universitas Sumatera Utara (USU) angkatan 2020 Senin (5/10/2020).

Baca Juga:   Pelaku Bom Bunuh Diri di Mako Polrestabes Medan Mulai Temui Titik Terang

Ari mengatakan bahwa Indonesia harus keluar dari ketergantungan kepada sumber daya alam. Karena sumber daya alam semakin lama akan semakin habis. Menurut dia, sumber daya alam harus digunakan untuk membangun human capital.

Dia mengatakan sebagai negara dengan penduduk terbesar ke empat di dunia, Indonesia memiliki modal dalam mengembangkan human capital, tanpa harus mengandalkan lagi faktor sumber daya alam lagi. Menurutnya, Indonesia akan mencapai bonus demograsi pada tahun 2030-2040.

“Banyak negara yang alamnya keras dan tidak subur, tapi justru berkembang maju. Dan sebaliknya banyak negara yang kaya SDA, tapi terlena dan lupa meningkatan kualitas SDM. Ada kutukan sumber daya alam atau dutch desease,” ujar dia.

Baca Juga:   470 Orang Mahasiswa STMIK Royal Kisaran Dilepas Ikuti KKL

Ari menilai sejumlah negara sangat serius membangun manusianya. Menurut dia, negara-negara Skandinavia itu punya dana abadi tak terbatas untuk membangun manusia-manusia mereka. Mereka membangun pendidikan besar-besaran untuk membentuk manusia unggul. Demikian dengan negara lainnya seperti Uni Emirat Arab (UEA). Negara itu lambat laun akan meninggalkan ketergantungan dengan SDA minyak bumi. Mereka secara pelan tapi pasti juga membangun human capital.

“Inilah tantangan kita dalam mengoptimalkan SDM untuk mencapai visi Indonesia tahun 2045, yakni keluar dari negara yang berpendapatan (income) menengah, menjadi negara maju dengan pendapatan per kapita Rp320 juta per tahun,” ujarnya.

Menurut dia, salah satu cara untuk menuju ke SDM Indonesia unggul adalah dimulai dari kandungan ibu. “Kita mulai dari kandungan ibu, kita perbaiki gizi-gizi ibu hamil dan jangan sampai terjadi kasus stunting (cebol). Kita masih prihatin kasus stunting di Indonesia tahun 2019 mencapai 27,70 persen. Kita mau angkat stunting itu mencapai di angkat 20 persen. Cara selanjutnya adalah memperbanyak fakultas kedokteran di Indonesia agar dokter semakin banyak. Untuk melakukan preventif,” tuturnya.

Baca Juga:   PLTU di Sumut Berpotensi Jadi Penyumbang Sumber Krisis Iklim

Untuk itu, Ari meminta dunia perguruan tinggi untuk melakukan hilirisasi hasil-hasil penelitian para dosen. “Hasil-hasil penelitian para dosen itu harus diaplikasikan ke dunia industri dan dunia pemerintahan.”