Scroll untuk baca artikel
Media Sumutku Merah
Media Sumutku Biru
Media Sumutku Merah
Media Sumutku Biru
previous arrow
next arrow
Ekonomi

Memanfaatkan Pekarangan Rumah, Pasangan ini Untung PuluhanJuta Rupiah

×

Memanfaatkan Pekarangan Rumah, Pasangan ini Untung PuluhanJuta Rupiah

Sebarkan artikel ini

Mediasumutku.comIMEDAN-Tidak bisa menanam sayur gara-gara halaman yang kecil? Ternyata tidak juga. Bagi orang yang gigih berusaha halaman seluas tiga meter sekalipun bisa hasilkan uang jutaan rupiah dari kegiatan menanam sayuran.

Nilainya akan bertambah lagi ketika sayuran tersebut diolah sedemikian rupa menjadi aneka makanan olahan yang lezat dan menyehatkan.

Inilah yang dilakukan pasangan suami istri Rahmayeti dan Suwardi di kediamannya Jalan Bromo Lorong Amal No 11 Medan.

Huniannya biasa saja, tapi yang cukup menarik adalah beberapa tanaman hidroponik yang tumbuh subur didalam paralon yang sudah didesain rapi di halaman yang luasnya sekitar 3 meter. Kemudian pasangan ini juga membuat ruang bercocok tanam di atap rumah.

Tanamannya terdiri dari kangkung, basil, sawi, pok coi, tomat, labu  dan lainnya.

Meski sederhana, tak disangka sang pemilik rumah, Rahmayeti dan suaminya Suwardi Raden sangat diuntungkan dengan kegiatan hidroponiknya yang menurut pengakuannya mampu mencukupi segala kebutuhan hidup keluarganya. Setidaknya puluhan juta Rupiah perbulan bisa diperoleh dari kegiatannya menanam sayuran dengan media air tersebut.

Pasangan yang memberi lebel usahanya Syifa Hidroponik ini serius menekuni usaha hidroponik sejak tahun 2016. Tapi sebelumnya sudah belajar menanam dengan media hidroponik. “Saat itu sedang tren hidroponik, kami belajar cara menanam tanaman dengan media air ini dan ternyata asyik juga. Gak perlu harus berlahan luas untuk bisa menanam sayur,”ucap Rahmayeti.

Baca Juga:   Kos Singgahsini Bantu Tingkatkan Okupansi Mitra Hingga 75 Persen

Modal awal membuat hidroponik setiaknya ia menghabiskan dana sekitar Rp 3 Juta, untuk pembelian bahan-bahan hidroponik. Bahannya terdiri dari paralon, sterofoam, kain panel, net pot, bak atau wadah media tanam, nutrisi hidroponik dan lainnya. Suwardi bertugas merakit media hidroponik.

Saat panen, mereka pun mencari restoran hingga supermarket yang bisa menampung sayuran hydroponiknya. Karena penjualan di supermarket dan restoran hasilnya belum seperti diharapkan, Rahmayeti sempat bingung mau diapakan sayuran-sayuran yang tak terjual itu. Puncaknya saat menyaksikan penen kangkungnya yang melebihi kapasitas permintaan pasar. “Dah dimakan dan sudah di bagi-bagi ke saudara dan tetangga pun masih berlebih juga,”kenangnya.

Ia pun mencari akal hingga terpikir ingin mengolah sayurannya menjadi makanan ringan seperti nungget, juice, es krim bahkan rendang. “Kebetulan selama ini saya memang sudah biasa juga masak dan menjual nungget,”akunya.

Baca Juga:   EWF Medan Prediksi Emas Akan Masuki Fase Konsolidasi Akhir Tahun

Usaha pertamanya adalah nungget. Berbagai sayur hidroponik yang ditanamnya diolah menjadi nungget, seperti sawi, kangkung. Agar rasa lebih enak ia memadukannya dengan udang dan ayam. Setiap produk yang dihasilkan ia tawarkan ke teman, famili dan lainnya.

“Alhamdulillah lumayan juga yang order. Habis coba mereka repeat order lagi. Itu artinya makanan yang saya buat cocok bagi mereka,”ujarnya.

Seminggu sekali atau seminggu dua kali, Rahmayeti melakukan produksi. “Ini kan makanan prozen. Ia tahan lama. Jika stok sudah menipis baru saya buat lagi,”akunya. Sekali produksi menghasilkan 100 hingga 200 kilo produk.

Produknya laris manis di pasar. Rahmayeti memanfaatkan berbagai momen untuk mempromosikan usahanya mulai dari teman, kenalan hingga jejaring sosial. Saat merayakan hari Pangan Sedunia tahun 2016 kreasinya dicicipi oleh Gubernur Sumatera Utara, Tengku Erry yang merupakan sejarah awal terkenalnya usaha yang dirintisnya.

Produknya dianggap unik, tidak biasa dan lezat di lidah. Saat Gubernur melakukan icip-icip banyak media massa turut meliput kegiatan tersebut. Pamor usahanya pun langsung melejit.
Dampak dari promosi usahanya semakin dikenal luas. Tidak lama setelah itu, ia dan suaminya mendirikan badan usaha dengan merek Syifa Hidroponik
Rendang kangkung lebih dicari
Mulus dibidang produksi, tapi tidak selalu berhasil baik saat mendistribusi. “Mulut saya sampai pegal menjelaskan tentang produk saat orang bertanya-tanya

Baca Juga:   Tokopedia Luncurkan Loyalitas TokoPoints

sewaktu berlangsung pameran. Bahkan saya harus mengulang-ngulang hal yang sama,”ucapnya tentang pengalaman memperkenalkan produk kreasi dari kangkung.

Ia mengakui banyak juga orang yang nyeleneh saat mendengar rendang kangkung. “Mereka tanya…itu apa, saya bilang ini rendang kangkung. Trus belum icip langsung pergi. Tapi ya namanya kita jualan, tidak boleh langsung marah. Sabar aja,”imbuhnya. Tapi bagi yang bertanya dan langsung icip, dipastikan mereka akan beli.
Diantara berbagai jenis makanan olahan dari kangkung, ia mengakui permintaan rendang kangkung lebih banyak dari produk lainya seperti kerupuk kangkung, es krim bahkan nungget.

Selain mengandalkan pameran, Rahmayeti juga mempromosikan produknya di media sosial seperti instagram dan facebook.
Saat ditanya omset yang diperoleh, ia mengakui tidak bisa diprediksi. “Tapi pastinya saat pameran peminatnya lebih banyak,”akunya. Setidaknya perbulannya ia mampu menghasilkan puluhan juta rupiah dari hasil tanaman di halaman rumahnya itu.