Scroll untuk baca artikel
Media Sumutku Merah
Media Sumutku Biru
Media Sumutku Merah
Media Sumutku Biru
previous arrow
next arrow
Media Sumutku Merah
Media Sumutku Biru Muda
Media Sumutku Merah
Media Sumutku Biru Muda
previous arrow
next arrow
Sumut

Uhendi Haris: 103 Ribu Ha Lahan Karet Dihajar Pestalotiopsis

×

Uhendi Haris: 103 Ribu Ha Lahan Karet Dihajar Pestalotiopsis

Sebarkan artikel ini

Medan, mediasumutku.com — Serangan cendawan pestalotiopsis ke ratusan ribu hektar perkebunan karet di Indonesia ternyata bukan isapan jempol. Cendawan itu bternyata mengakibatkan gugur daun karet sepertibyang disampaikan oleh H Kacuk Sumarto selaku Wakil Ketua Bidang Produksi Gapkindo Pusat kepada para wartawan, Jumat (12/7/2019).

“Serangan peatalotiopsis itu bahkan menyerang ke 103.254 hektar perkebunan karet di seluruh Indonesia, terutama di sentra-sentra perkebunan karet seperti Provinsi Sumatera Selatan yang perkebunan karetnya terluas, disusul serangan ke Sumatera Utara, Jambi, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Barat,” ujar Sekretaris Jenderal (Sekjen) Dewan Karet Indonesia.yang juga Asisten Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (Gapkindo), H Uhendi Haris, kepada para wartawan melalui handphone.

Baca Juga:   Sergai Gelar Penyemprotan Disinfektan Secara Massal

Kata Uhendi, data itu diperoleh dari Pusat Penelitian Karet (PPK) yang meruoajan bagian dari PT Riset Perkebunan Nusantara (RPN). Ia mengungkapkan, wabah pestalotiopsis terjadi karena resistensi tanaman karet berkurang.

Ia mengatakan, cendawan pestalotiopsis awalnya diketahui menyerang perkebunan karet di Malaysia. Sementara Thailand yang juga menjadi sentra karet belum memberikan informasi apakah terkenan cendawan tersebut atau tidak.

Kata Uhendi, pada tahun 2017, cendawan penyebab GDK itu menyerang 22 ribu ha perkebunan karet di Indonesia. Namun berdasarkan data Pusat Penelitian Karet, Uhendi mengatakan luasan serangan sudah mencapai 103.254 ha, terutama menyerang Sumsel, Sumut, Jambi, Kalsel, dan Kalbar.

“Awalnya serangan spestalotiopsis terbatas, tapi kini meluas. Sumsel yang terparah, apalagi lahan karet terluas di Indonesua ada di Sumsel,” tegas Uhendi Haris.(MS1/MS1)

Baca Juga:   Kasus Dugaan Pungli, Polres Sergai Periksa Kepala BPN dan Kasi Pengukuran