Scroll untuk baca artikel
Media Sumutku Biru
Media Sumutku Biru
Media Sumutku Biru
Media Sumutku Biru
previous arrow
next arrow
HeadlineNasionalPolitik

Dua Harahap dan Satu Siregar Bincang Tipis-Tipis Tentang Manjappal tu Balian, Mangalngei tu Bagasan”

×

Dua Harahap dan Satu Siregar Bincang Tipis-Tipis Tentang Manjappal tu Balian, Mangalngei tu Bagasan”

Sebarkan artikel ini

mediasumutku.com | JAKARTA-Tiga putra daerah asal Tapanuli Bagian Selatan (Tabagse, dua bermarga Harahap dan satunya lagi bermarga Siregar menjadi bintang tamu Bincang Tipis-Tipis dengan Host Erman Tale Daulay di channel Youtube Tale Trias Info.

Tiga bintang tamu tersebut adalah Ismer Harahap, mantan Sekda dan Wakil Bupati Kep. Seribu, Penjabat (Pj) Bupati Padang Lawas, Sumatera Utara, Dr. Edy Junaedi Harahap, S.STP, M.Si dan Dr. Kiman Siregar, Akademisi IPB memegang teguh falsafah Tabagsel, Manjappal tu balian, mangalngei tu bagasan. Petuah ini dimaksudkan, berkarier di perantauan, berbagi ke kampung halaman.

Dr. Kiman Siregar yang juga Ketua Umum Parsadaan Siregar Boru dohot Bere (PSBB) gemar berbagi ilmu pengetahuan di sektor pertanian/perkebunan. Hasil penelitiannya kerap ia bagikan ke khalayak. Begitu juga Ismer Harahap, tokoh Ikatan Marsisarian Masyarakat (IKM) Halongonan, Paluta, kerap menuangkan gagasan pada perbaikan birokrasi dalam upaya menciptakan pelayanan prima kepada publik. Sementara Edy Junaedi Harahap yang kini diberi amanan Pj. Bupati Palas mencurahkan segala perhatian untuk membangun infrastruktur menuju desa-desa agar hasil pertanian mudah diangkut ke pasar, dan memberi perhatian besar pada pengembangan desa wisata di Palas.

Baca Juga:   Plt Kakanwil Kemenagsu : Harap 113 PNS Dapat Melayani Warga Langkat Lebih Baik

Berbicara tentang Tabagsel, saat ini sudah banyak lahan pertanian beralih fungsi menjadi kebun sawit, dan petani sawit di sana hanya bisa menjual tandan buah segar. Menurut Dr Kiman Siregar, hal yang bisa dilakukan untuk mensejahterakan petani sawit itu bagaimana caranya atau paradigma kita itu kita geser petani itu jangan lagi sekadar menjual TBS.

“Selama petani itu menjual TBS dia tidak akan menjadi petani yang kaya atau tidak akan pernah naik kelas. Bagaimana caranya, harusnya petani sawit itu harus mulai menjual CPO. Dan ini memang perlu political will daerah. Kalau saya sih melihat hal ini sebenarnya dengan dana desa yang ada sudah bisa membuat sebuah pabrik kelapa sawit (PKS) Mini yang kapasitasnya misalnya 5 sampai 10 ton,” kata Kiman Siregar.

Baca Juga:   Bincang Tipis dengan Ricky Kurniawan : Jabar Itu Tetap Lumbung Suara Prabowo Subianto

Dengan mengubah pola tersebut,lanjutnya berapa lompatan penghasilan yang didapatkan petani. Jadi yang menikmati hasil sawit petani tidak lagi pabrik CPO ketika di jajaran petani sudah mampu memproduksi CPO. Itu sebabnya, kita diperantauan mau turun langsung ke kampung halaman untuk mengubah pola pikir petani dari pelaku usaha menjadi pebisnis.

Paluta itu terdiri dari 12 Kecamatan, dan satu kecamatan itu terkadang ada yang 14 sampai 15 desa, dari jumlah desa ini sebenarnya sudah bisa rembuk bersama untuk membangun sebuah PKS mini dengan menggunakan dana desa, walau pun di awalnya mungkin kecil dulu.

Lalu, bagaimana birokrasi menyambut obsesi ini, Penjabat (Pj) Bupati Padang Lawas, Sumatera Utara, Dr. Edy Junaedi Harahap, S.STP, M.Si menyampaikan walaupun belum melihat dengan fakta tapi perilaku birokrasi kita di sana ya perlu perubahan.

“Minimal ada perubahan untuk percepata, dan tidak lagi seperti kata orang, kalau bisa diperlambat kenapa harus cepat. Terkadang, investor yang mau menanamkan investasinya bingung karena birokrasinya tidak terpadu,” paparnya.

Baca Juga:   "Remdesivir" Di Yakini Mampu Obati dan Cegah Kerusakan Paru di Pasien Corona

Itu sebabnya, kata Edy Junaedi Harahap birokrasi itu harus baik perilakunya, komitmen dari birokratnya dan keterpaduan informasi yang didapatkan. Dengan terpadu, investor akan mendapat kemudahan dan kepastian.

Sementara Ismer Harahap, mantan Sekda dan Wakil Bupati Kep. Seribu menyampaikan bahwa di luar Palas itu ada banyak generasi muda kita yang pintar-pintar dan mau menyumbangkan pemikirannya untuk membangun kampung halaman.

“Permasalahannya adalah, ketika ada anak muda atau perantau yang memberikan buah pemikirannya kepada masyarakat langsung ada anggapan ada kepentingan, padahal mereka turun ke kampung halaman dengan biaya sendiri dan bukan untuk kepentingan diri sendiri,” kata Ismer Harahap.

Ke depan, kata Ismer seluruh elemen harus benar-benar membangun sinergi dan kolaborasi agar pembangunan di daerah ini bisa terwujud. Bukan untuk saling menjatuhkan tapi memberikan jalan keluar yang tujuannya mensejahterakan masyarakat.