Scroll untuk baca artikel
Media Sumutku Biru
Media Sumutku Biru
Media Sumutku Biru
Media Sumutku Biru
previous arrow
next arrow
EkonomiHeadlineNasional

Ekstensifikasi Lahan Food Estate : Membangun dan Mengembangkan Lahan Pertanian Produktif Baru untuk Petani

×

Ekstensifikasi Lahan Food Estate : Membangun dan Mengembangkan Lahan Pertanian Produktif Baru untuk Petani

Sebarkan artikel ini

LAHAN ekstensifikasi food estate padi di Desa Tanjung Harapan, Kecamatan Dadahup, Kabupten Kapuas, Kalteng, semula semak belukar terlantar disulap jadi lahan sawah.

Kementan yang jadi “leading sector” mengerahkan Alsintan dan penyubur tanah untuk membuat lahan bisa ditanami padi, kemudian area pematang ditanami kelapa genjah dan tanaman hortikultura.
Jajaran Kementan aktif mendampingi petani di lapangan agar proses budidaya padi berjalan lancar, mengingat ini lahan baru yang perlu perhatian khusus.

Manakala tercipta cerita sukses petani di satu wilayah, cerita itu akan merambat dengan sistem ketuk tular ke wilayah atau desa lainnya. Karena itu, jajaran Kementan mencurahkan segala perhatian untuk menyukseskan program ekstensifikasi lahan di kawasan food estate Kalteng.

Panen perdana kegiatan ekstensifikasi pada program food estate dalam rangka ketahanan pangan di Desa Batuah, Kecamatan Basarang, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah.

Kali ini, lewat Liputan Bincang Tipis-Tipis, Tale Trias Info, berada langsung di lokasi yang awalnya lahan semak belukar dan diubah menjadi kawasan esktensifikasi Food Estate berdialog dengan petani dan tenaga penyuluh pertanian di sana.

Baca Juga:   Rupiah Dibuka Melemah Sentuh Rp14.030 Per Dolar AS

Dalam kesempatan itu, kami berbicang-bicang dengan Muhammad Nur, seorang petani yang tergabung dalam program food estate di sana.
Awalnya lahan aslinya adalah kawasan terlantar yang susah utk diolah apalagi ditanami.

Namun setelah dibantu dengan alat pertanian yang memadai, sekarang lahan tersebut bisa dijadikan media bercocok tanam yang produktif, dalam hal ini jadi lahan sawah. Di lahan tersebut, selain tanaman padi, petani juga membudidayakan tanaman kelapa genjah, terong, cabe, melon dan juga sayur-sayuran. Sembari menunggu padi panen, petani menanam hortiklutura untuk menambah penghasilan.

Saat ditanyakan apa saja yang dilakukan dalam mengubah lahan semak belukar menjadi lahan sawah seluas 1 hektar tersebut, Muhammad Nur menuturkan bahwa dirinya antara lain, mentraktor, menanam memupuk, dan melakukan perawatan rutin.

Pola pertanian yang dilakukan Muhammad Nur sudah diduplikasikan ke petani-petani lainnya. Sudah banyak teman petain yang mengikuti jejaknya.
Dulu sebelum mengolah lahan ekstensifikasi ini, aku Muhammad Nur, sebagaian besar warga di desa tidak bekerja apa-apa. Lahan yang ada tidak bisa diolah. Lantaran lahan di sana mengandung asam tinggi dan sering dilanda banjir.

Baca Juga:   DKPP Akan Periksa Ketua dan Anggota KPU RI dan KPU Serdang Bedagai

Karena itu, sekarang pola bertani di sana saat ini dengan cara berkelompok. Tidak sendiri-sendiri. Ketika ada petani yang satu yang sukses menanam sesuatu, petani yang lain akan mengikuti. Sistem ketuk tular yang dipakai.

Adapun penyuluh pertanian yang sering bersama petani setiap hari mengakui bahwa proses ektensifikasi lahan yakni mengubah lahan yang awalnya semak belukar menjadi lahan sawah yang produktif bukanlah pekerjaan yang mudah. Banyak tantangannya antara lain menyangkut tantangan kesuburan tanah, tantangan alam, dan lain-lain.

Menurutnya, kendala utama tingkat keasaman tanah di sana tinggi. Selain itu, sehabis cetak sawah muncul banyak cekungan sehingga Alsintan berupa TR2 relatif sulit dioperasikan. Untuk menetralisir kondisi keasaman tanah tersebut, petani menggunakan kapur.

Baca Juga:   Sejumlah Penerbangan di Bandara Hang Nadim Batam Terhambat Cuaca

Dengan dukungan perairan yang memadai, penyuluh pertanian berharap, lahan ekstensifikasi yang sudah terbentuk menjadi produktif dan menghasilkan.

Selain itu, para petani mengharapkan dukungan pemerintah pusat dan daerah dalam mengatasi kendala dan hambatan yang dialami di lapangan. Seperti ketersediaan kapur yang memadai untuk proses menetralisir lahan yang cenderung berkadar asam tinggi serta pupuk untuk menyuburkan tanaman.

Menurut penyuluh pertanian, antusiasme petani berbudidaya di area food estate lumayan tinggi. Memang masih ada sebagian petani yang trauma dengan pengalaman bercocok tanam sebelumnya, tahun 2004-2005, di mana mereka sering menghadapi kegagalan usaha taninya. Berulang-ulang terjadi setelah tanam, lantas gagal. dan tidak ada hasilnya. Akibatnya modal petani terbuang percuma.

Kini dengan kehadiran food estate secercah harapan muncul kembali untuk mendapat penghasilan dari budidaya pangan terpadu.