Scroll untuk baca artikel
Media Sumutku Merah
Media Sumutku Biru
Media Sumutku Merah
Media Sumutku Biru
previous arrow
next arrow
EkonomiHeadlineSumut

GMKI Temui Gubernur Sumut Bahas Solusi Virus Demam Babi di Sumut

×

GMKI Temui Gubernur Sumut Bahas Solusi Virus Demam Babi di Sumut

Sebarkan artikel ini

Mediasumutku.com | Medan : Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia Kordinator Wilayah Sumut-NAD Gito M Pardede menyambangi Rumah Dinas Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi untuk melakukan diskusi dan membicarakan terkait Bencana Wabah Virus demam Babi di Sumatera utara Jalan jend. Sudirman. Medan, Selasa (11/2/2020)

Gito memandang bahwa permasalahan Virus Babi ini sangat lah penting bagi masyarakat Sumatera Utara karena sudah jadi Kategori Wabah dan terlebih masalah babi ini menyangkut perekonomian masyarakat terkhusus peternak babi yang ada di Sumut.

“Permasalahan wabah ini sangat berat dan juga sangat sensitif dikarenakan peternak babi cukup besar di Sumatera Utara. Sangat banyak masyarakat Sumut terkhusus agama Kristen yang menggantungkan perekonomiannya pada peternakan babi tradisional,” kata Gito.

Masyarakat demo, lanjutnya karena penjualan babi menurun dan mempengaruhi perekonomian peternak, maka dari itu diperlukan solusi yang benar-benar dapat bekerja sama dengan para peternak.

Baca Juga:   GMKI Kecam Aksi Bom Bunuh Diri di Mapolres Medan

Kementerian Pertanian (Kementan) Republik Indonesia menyatakan, hampir 30.000 babi di Sumatera Utara mati karena wabah flu babi Afrika (ASF).

“Apabila penyakit sudah naik menjadi status wabah tidak bisa dilakukan penanganan yang sepihak, musti melibatkan petani peternak babi, harus ada komunikasi dan sosialisasi yang baik kepada peternak agar virus cepat ditangani dan setidak nya menurun kan status nya dari Wabah”, papar Gito.

Menanggapi hal ini, Pemerintah Provinsi Sumatera Utara tampak serius menangani temuan kasus kematian babi atau penyakit dengan gejala African Swine Fever (ASF) tersebut.

“Saya menawarkan beberapa solusi kepada Bapak Gubernur terkait masalah penyakit babi ini. Penanganan terbaik permasalahan wabah ini dengan tidak takut memakan daging babi, karena dengan begitu akan dapat menekan jumlah populasi babi dengan alami (bukan pemusnahan) sampai terjadi penurunan jumlah kematian babi dan apabila tingkat kematian babi berkurang maka status wabah juga akan menurun,” paparnya.

Baca Juga:   12 Wilayah Zona Merah di Jawa Timur

Bagaimana pun juga, tegasnya memang harus ada upaya untuk menekan kematian atau menekan jumlah babi yang mati maka diperlukan kerja sama dengan peternak untuk memulihkan kondisi wabah ini sementara waktu. Karna virus ini belum ada vaksin dan obat nya juga belum ada.

Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi mengaku masih bekerja keras mencari solusi terkait masalah ini dikarenakan tingkat kematian babi sudah mewabah dan menggangu stabilitas perekonomian peternak.

Gito mengatakan agar dapat terkendali peternak jangan menambah populasi ternak babi sebelum ada vaksin, ternak atau daerah yang belum terjangkit sebaiknya diisolasi dan memperbaiki makanannya.

“Pemerintah harus terlibat dalam memperlancar arus penjualan ternak hidup, serta penerapan biosekuriti (disposal, penguburan, standstill order, disinfeksi,) pengawasan lalu lintas peternakan babi dan produknya, pelarangan swill feeding, sosialisasi dan pelatihan,” kata Gito Pardede.

Baca Juga:   32 Warga Sergai Sembuh dari Covid-19

Gubernur Edy menyambut baik solusi yang ditawarkan Gito M Pardede selaku ketua Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia, Edy mengatakan solusi kongkret demikian yang dibutuhkan Pemprov.

“Saya butuh masukan yang baik begini, nanti kita buat forum khusus untuk mencari solusi yang pas dalam waktu dekat, GMKI harus rancang itu,” kata Edy.

Gerakan “Save Babi” berunjuk rasa secara damai di DPRD Sumut untuk menolak pemusnahan babi, setelah di Sumut terindikasi wabah virus demam babi afrika ( african Swine Fever/ ASF) dan kolera babi ( hog cholera) yang membuat ribuan babi di Sumut mati mendadak.

“Permaslahan virus babi adalah masalah perekonomian, dan kalau salah menangani akan menjadi masalah besar, contohnya jadi mencemari lingkungan dan juga kehilangan lapangan pekerjaan,” tandas Gito.