Scroll untuk baca artikel
Media Sumutku Biru
Media Sumutku Biru
Media Sumutku Biru
Media Sumutku Biru
previous arrow
next arrow
Artikel

Anak Jadi Korban Kekerasan, Aktivis Perempuan Di Binjai Ingin Wujudkan DRPPA

×

Anak Jadi Korban Kekerasan, Aktivis Perempuan Di Binjai Ingin Wujudkan DRPPA

Sebarkan artikel ini
Foto: Sugi Hartaty Santoso (kemeja krim) saat melakukan pendampingan kasus kekerasan terhadap anak.

Tak pernah terlintas sedikitpun bagi Sugi Hartaty Santoso, ibu tiga anak yang juga berkarir di bidang finansial ini harus mengalami pahit getirnya seorang ibu yang menyaksikan sendiri anaknya menjadi korban kekerasan oleh pengasuhnya.

Taty sapaan akrab Sugi Hartaty Santoso aktif bekerja di salah satu perusahaan finansial di Binjai. Bahkan, menduduki jabatan yang tinggi di perusahaan tersebut. Karena kesibukannya berkarir di perusahaan itu, Taty pun mempercayakan anak-anaknya diasuh oleh seorang pengasuh. Namun, tak disangka, kesibukannya itu malah membuat pengasuhnya bertindak dibatas kewajaran kepada anaknya.

“Saya menitipkan ketiga anak saya kepada pengasuh yang memang sudah saya percayai. Tapi, siapa yang menyangka, anak saya yang kedua ternyata sering dipukuli kalau saya tidak di rumah. Yang terakhir, saya menyaksikannya sendiri. Waktu itu, saya tidak sengaja harus putar balik ke rumah ingin mengambil berkas kantor yang tertinggal. Kebetulan mobil tidak saya bawa masuk ke gang rumah. Jadi, kepulangan saya tidak diketahui siapapun, termasuk pengasuh anak. Begitu masuk ke dalam rumah, saya melihat anak saya dipukuli. Sedangkan anak saya yang ketiga diberi obat tidur. Saya menemukan obat tidur dibawah bantal tempat anak saya tidur di hari yang sama,” kata Taty kepada mediasumutku.com di Medan, Jum’at (24/6/2022).

Setelah kejadian itu, Taty memilih untuk mengundurkan diri dari perusahaan tempatnya bekerja. Karena, Taty merasa selama ia meniti karir sebagai seorang finansial, ia telah kehilangan masa-masa emas sebagai seorang ibu. Terlebih lagi, Taty merasa menyesal atas kejadian yang menimpa anak-anaknya.

“Setelah kejadian itu, yang ingin saya lakukan adalah menolong diri saya sendiri, saya ingin mengembalikan masa-masa emas yang telah hilang bersama dengan anak-anak. Artinya, yang ingin saya sampaikan bahwa peran orangtua terutama ibu itu memang sangat dibutuhkan di usia emas anak. Mereka membutuhkan kita,” bilangnya.

Menjadi Aktivis dan Mendampingi Anak Korban Kekerasan

Lepas dari pekerjaanya sebagai seorang finansial, tak membuat Taty berhenti beraktifitas. Dia mulai menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan, mulai dari ikut pengajian dengan ibu-ibu dilingkungannya, hingga sering mengikuti seminar dan workshop tentang perempuan dan anak.

Baca Juga:   Begini Jadinya Ketika Makanan Karo Kawin dengan Mandailing, Ada di Rumah Makan Andaliman

“Waktu saya ikut pengajian, saya mengingat salah satu pesan seorang ustadz saat ceramah. Beliau mengatakan bahwa memberi itu tidak hanya semata-mata tentang uang, tapi berikanlah hatimu. Jadi, sejak itu saya berniat ingin memberikan hati saya kepada orang lain, terutama kepada anak-anak saya. Saya mulai aktif di kegiatan pengajian dan mengikuti seminar dan workshop tentang perempuan dan anak,” ucap Taty.

Banyaknya intensitas Taty mengikuti berbagai seminar dan workshop tentang perempuan dan anak membuat dirinya tertarik ingin lebih memahami berbagai persoalan kasus kekerasan yang dialami perempuan dan anak. Tidak hanya itu, Taty juga bergabung di Forum Komunikasi Partisipasi Publik Untuk Kesejahteraan Perempuan Dan Anak (FK PUSPA) Sumatera Utara.

“Sebenarnya awalnya tidak mengerti sama sekali. Tapi, karena sering mengikuti seminar tentang gender, saya merasa tertarik ingin berkontribusi lebih banyak lagi terhadap kasus kekerasan perempaun dan anak. Saya sering berdiskusi dengan Ketua PUSPA Sumut saat itu yaitu Misran Lubis. Dari dialah, saya merasa mendapat ruh baru. Saya berpikir ternyata ada jalan untuk saya berbuat kebaikan,” pungkasnya.

Saat bergabung di PUSPA Sumut, Taty ikut mendampingi kasus-kasus kererasan terhadap perempuan dan anak. Terutama, kasus-kasus yang berada di kota Binjai.

“Karena sering mendampingi kasus di Binjai, akhirnya saya dibantu dengan PUSPA Sumut mendirikan PUSPA di Binjai agar lebih fokus membantu menangani dan mendampingi kasus-kasus yang ada di Binjai,” ujarnya.

Kasus Kekerasan Terhadap Anak Masih Sering Disepelekan

Selama mendampingi kasus kekerasan terhadap anak, Sugi Hartaty Santoso yang kini Ketua Forum Komunikasi Partisipasi Publik Untuk Kesejahteraan Perempuan Dan Anak (FK PUSPA) Kota Binjai menilai, penanganan kasus kekerasan terhadap anak terkesan masih sering disepelekan.

“Saya pernah mendampingi kasus ayah kandung yang melakukan pencabulan kepada anaknya. Si anak, setiap mau minta uang jajan, kemaluan ayahnya harus dipegang. Ibunya meminta kasus itu ditutup. Saya sempat adu mulut dengan penyidiknya, karena kasus yang kami laporkan dari pukul 13.00 Wib tidak selesai-selesai hingga sore. Sedangkan si anak masih memakai seragam sekolah. Itukan melanggar hak anak. Kesannya masih sepele, karena pelayanannya lambat. Kasus ini baru ditangani sebulan yang lalu, tapi hingga kini menggantung, katanya cacat hukum. Saya akan gali lagi kasus ini,” sebut Taty.

Baca Juga:   Perbincangan Bersama Sofian Sibarani Perancang Ibu Kota Baru RI

Pengalaman lain cerita Taty, seorang ayah yang melakukan kekerasan kepada anaknya yang berujung damai.

“Ayahnya ini menikah lagi. Ibu tirinya sepertinya punya misi untuk menyingkirkan anaknya satu persatu. Nah, si anak ini dipukuli ayahnya sampai dikejar-kejar. Inikan saya yang mendampingi, tapi bisa-bisanya lolos. Mereka damai. Tapi, sangat disayangkan damainya bukan sama anaknya. Melainkan dengan polisinya dan kasus ditutup. Dari kejadian ini, anaknya tidak mendapatkan keadilan. Ini juga salah satu bukti bahwa kasus kekerasan terhadap anak ini masih disepelekan dan masih banyak lagi kasus lainnya,” imbuhnya.

Dia berharap, kasus kekerasan perempuan dan anak lebih mendapat perhatian dari pihak terkait seperti Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) di kepolisian.

“Saya sering didatangi masyarakat. Mereka bercerita dan meminta tolong kasus yang terjadi. Tapi, begitu saya dampingi saat membuat pelaporan, saya merasa pihak terkait seperti, Unit PPA ini belum terasa gerak cepatnya. Saya berharap, PPA harusnya lebih peduli. Pernah suatu momen di seminar publik, pekerjaan dan keberadaan kita sebagai lembaga yang mendampingi diakui. Tapi, sepertinya mereka kurang support kita,” pungkasnya.

Mewujudkan DRPPA Di Binjai

Desa/Kelurahan Ramah Perempuan dan Peduli Anak (DRPPA) merupakan desa/kelurahan yang berperspektif gender dan hak anak dalam tata kelola penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan, serta pembinaan dan pemberdayaan masyarakat desa/kelurahan, yang dilakukan  secara terencana, menyeluruh dan berkelanjutan, saya

Melalui DRPPA ini diharapkan perempuan dapat diberdayakan secara ekonomi. Selain itu, juga mencegah terjadinya kekerasan terhadap perempuan dan anak, mencegah adanya pekerja anak dan perkawinan usia anak.

Sugi Hartaty Santoso yang bermetaformosa dari seorang pekerja finansial menjadi aktivis perempuan dan anak yang juga Ketua Forum Komunikasi Partisipasi Publik Untuk Kesejahteraan Perempuan Dan Anak ( FK PUSPA ) Kota Binjai, ini bercita-cita ingin mewujudkan daerah tempat tinggalnya menjadi Desa/Kelurahan Ramah Perempuan dan Peduli Anak. Dia telah mengusulkan dua kelurahan di kota Binjai menjadi DRPPA yakni, Kelurahan Jati Makmur, Binjai Utara dan Kelurahan Mencirim, Binjai Timur.

Baca Juga:   Siapa Bilang Cuci Tangan, Pakai Masker, dan Jaga Jarak Itu Tidak Penting?

Taty sapaan akrab Sugi Hartaty Santoso menuturkan, alasannya ingin menjadikan dua kelurahan tersebut menjadi DRPPA, selain kasus kekerasan yang menimpa anak lebih mendominasi, juga karena ada kedekatan emosional di wilayah kelurahan tersebut. Bahkan, masih ada warga di lingkungan kelurahan tersebut yang tinggal di bekas kendang kambing.

“Saya ingin mewujudkan kelurahan tempat saya tinggal menjadi DRPPA. Dan, saya sudah mengajukan dua kelurahan tersebut menjadi DRPPA ke pemerintah daerah. Karena bolak balik ganti lurah, jadi harus kita rombak lagi, sehingga prosesnya agak lama. Kita akan bertemu dengan lurah yang baru lagi dan mudah-mudahan prosesnya bisa lebih cepat,” kata Taty yang sudah turut membantu ratusan Kartu Identitas Anak (KIA) di Binjai.

Dikatakan Taty, dari sejumlah indikator DRPPA, keberadaan dan kesiapan SDM (sumber daya manusia) adalah hal yang paling menjadi kendalanya. Sebab, menurutnya, untuk mewujudkan DRPPA ini sudah pasti akan melibatkan banyak oknum seperti, kepala lingkungan, lurah dan masyarakatnya sendiri.

“Pertanyaanya, apakah kepling akan memahami konsep DRPPA ini. Karena, dalam perwujudannya kan perlindungan anak terpadu berbasis masyarakat. Dimana, anak itu bisa terakses ke masyarakat. Misalnya, kantor lurah, apakah bisa terakses 24 jam, tentu tidak. Apakah kepling 24 jam, belum tentu kepling mengerti. Artinya, SDMnya harus siap,” ucapnya.

Untuk itu Taty berharap, pemerintah daerah dapat melakukan sosialisasi tentang konsep DRPPA kepada seluruh aparatur mulai dari perangkat desa, kelurahan hingga kecamatan. Sehingga, model DRPPA yang diharapkan bisa tercapai.

“Dengan terwujudnya desa ramah perempuan peduli anak ini, saya berharap dampaknya semakin banyak masyarakat yang cerdas. Setidaknya masyarakat mengerti mau pergi kemana, berani bercerita dengan nyaman jika mengalami masalah terkait kekerasan. Selama ini kan kesannya masyarakat masih takut melapor, takut bercerita, takut berhadapan dengan hukum. Kedepan, jangan ada lagi seperti ini jika DRPPA sudah terwujud,” pungkas Taty yang juga dilibatkan dalam mewujudkan Kota Layak Anak oleh Pemerintah Kota Binjai. (eko agustyo fitri brahmawati)